Hingga saat ini pengukuran gas menggunakan instrumen Multi-GAS baik yang portabel maupun stasiun permanen belum menunjukkan perubahan mencolok dalam komposisi gas-gas vulkanik seperti rasio CO/SO, CO/HS, maupun proporsi antara SO dan HS, namun konsentrasi gas masih berada dalam batas normal, dan bersifat fluktuatif.
Dengan mempertimbangkan semua data tersebut, kata Wafid, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Perahu dan para pengunjung, tetap diimbau untuk tidak mendekati area dasar kawah, tidak berlama-lama di kawasan aktif, serta segera menjauh jika teramati peningkatan intensitas hembusan atau tercium bau gas menyengat.
Meski aktivitas menurun, kewaspadaan harus tetap dijaga. Pemerintah daerah dan BPBD diminta terus menjalin koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Tangkuban Parahu di Desa Cikole serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Bandung.
Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan, serta mengikuti perkembangan informasi resmi.
"Evaluasi tingkat aktivitas Gunung Tangkuban Perahu akan dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan signifikan. Masyarakat diharapkan tetap tenang, waspada, serta mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama," ucapnya.
Diketahui, Gunung Tangkuban Parahu merupakan gunung api aktif yang memiliki sembilan kawah dengan dua kawah utama berada di area puncak, yaitu Kawah Ratu dan Kawah Upas. Erupsi Tangkuban Parahu pada umumnya berupa letusan freatik dari Kawah Ratu.
Baca juga: Wisatawan dilarang masuki jalur pendakian Gunung Tangkuban PerahuBaca juga: PVMBG memastikan video viral erupsi Gunung Tangkuban Perahu itu hoaks
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Aktivitas Tangkuban Parahu menurun setelah sempat 270 kali gempa
Pewarta: Ricky PrayogaEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026