"Kami melihat banyak korban khususnya anak-anak yang terkena dampak debu batu bara ," kata Komisioner dan Kepala Divisi Sosialisasi KPAI Pusat Erlinda Iswanto di Cirebon saat mengunjungi masyarakat yang terdampak secara langsung debu batu bara, Kamis.
Dia menuturkan hasil kunjungan di lokasi, sejumlah warga merasakan kondisi yang lebih baik daripada saat bongkar muat batu bara beroperasi.
Namun, tuturnya ada lima anak yang ditemukan masih mengidap flek pada pernafasan akibat debu batu bara.
KPAI mengaku khawatir jika suatu saat aktivitas bongkar muat batu bara dibuka kembali dan akan menimbulkan masalah yang lebih signifikan, terutama penyakit yang diderita warga di bagian pernafasan.
Ia menambahkan warga tidak membutuhkan uang kompensasi karena tidak menjamin hidup sehat.
"Mereka hanya ingin hidup normal dengan suasana sehat dan segar tanpa menghirup debu batu bara," tuturnya.
Ia mengatakan para pengusaha batu bara jangan berupaya menghalalkan segala cara untuk kelangsungan aktivitas bongkar muat batu bara.
"Jangan lagi deh pengusaha memberikan uang kompensasi kepada warga," katanya.
Pewarta: khaerul: Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.