"Menilai masih perlu (skripsi) karena itu bagaian dari alat komunikasi. Komunikasi itu ada yang tertulis, lisan dan visual. Kita memandang masih tetap perlu, dalam arti kita ingin mahasiswa bisa berkomunikasi secara tertulis verbal, visual," kata Kadarsah Suryadi, di Bandung, Rabu.
Ia mengatakan tidak sepakat dengan gagasan penghapusan skripsi sebagai syarat kelulusan mahasiswa S1.
"Bukan dihapuskan, tapi itu bagian dari pilihan, kan ada juga prodi yang tetap perlu dokumentasi tertulis, seperti Prodi Komunikasi perlu dokumentasi tertulis kan," kata dia.
Selain itu, lanjutnya, keberadaan skripsi juga bisa menjadi sarana bagi para mahasiswa jika ingin menjadi peneliti melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi.
"Jadi kalau nanti mahasiswanya ada yang mau jadi peneliti mau ambil S2 dan S3, kan harus dari awal berlatih menulis," kata dia.
Menurut dia, kebutuhan skripsi dalam syarat kelulusan mahasiswa tergantung pada program studinya.
"Saya pikir itu sangat tergantung pada untuk apa kebutuhannya. Ada juga yang memang harus praktik ke lapangan/industri. Jadi saya pikir itu tergantung pada prodinya," kata dia.
"Jadi Pak Menristek Dikti bagus memberikan keluluasaan kepada perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhannya saja," lanjut Kadarsah.
ajats
Editor : Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.