Antarajawabarat.com,23/3 - Federasi Realestat Internasional (FIABCI) Regional Asia Pacific mendorong pengembangan industri properti yang seirama dengan upaya perlindungan terhadap kawasan warisan budaya secara harmonis dan berimbang.

Hal itu tertuang pada Pertemuan FIABCI Asia Pacific yang digelar di Kota Bandung, Sabtu, yang diikuti berbagai stakeholder properti, penggerak pelestarian warisan budaya baik dari dalam maupun luar negeri.

"Pertemuan ini menyamakan persepsi terkait pengembangan kawasan warisan budaya atau heritage di tengah pembangunan di kawasan terkait, intinya kami memfasilitasi dan mendorong pengembangan kawasan secara harmoni dan berimbang," kata Presiden FIABCI Asia Pacific, Teguh Satria.

Kegiatan pertemuan yang digelar di kawasan Bandung utara itu dihadiri sekitar 150 peserta yang berasal dari berbagai elemen seperti arsitek, pemerintahan, penggerak pelestarian warisan budaya, REI serta elemen terkait lainnya.

Sedangkan beberapa nara sumber yang hadir antara lain dari Australia, Taiwan, Singapura, Jepang dan Malaysia.

Menurut Teguh kehadiran mereka tidak lepas untuk sharing pengalaman keberhasilan dalam mengembangkan harmoni kawasan warisan budaya di negara masing-masing.

Pertemuan yang digagas oleh FIABCI bekerja sama dengan Real Estat Indoneia (REI) itu sekaligus sosialisasi mengingat banyaknya potensi folklor bukan lisan yang diwariskan secara turun temurun, dalam arti warisan budaya tak benda berupa arsitektur sebagai instrumen penyusun sebuah kota.

Upaya pelestarian salah satu bentuk warisan budaya tak benda ini sudah menjadi gerakan yang cukup masif di berbagai belahan dunia. Indonesia yang juga memiliki beragam wujud warisan arsitektur lama, idealnya tak ketinggalan untuk mengambil peranan.

"Kami berharap melalui kegiatan ini dapat dicarikan solusi konkret, belajar dari pengalaman negara-negara tetangga mengelola kawasan kota-kota tuanya," kata Teguh Satria.

Ia menambahkan, sejumlah pembicara yang dihadirkan dalam kegiatan kali ini adalah mereka yang memiliki pengalaman praktis ataupun pemikiran tentang pengembangan kota-kota yang memiliki warisan budaya dengan baik.

Sementara itu Ketua DPP REI Setyo Muharso menyebutkan kota-kota di Indonesia memiliki banyak warisan peninggalan arsitektur bernilai tinggi. Namun, hampir semua warisan budaya itu tidak bisa dikelola secara optimal demi kepentingan wisata budaya dan penggalian potensi ekonomi bagi masyarakat.

"Melalui pertemuan ini, kita bisa menggali lebih mendalam potensi yang ada dan bagaimana memadukan pembangunan pengembangan perkotaan sebagai upaya memberikan perlindungan kawasan warisan budaya secara harmonis dan berimbang," katanya.

Setyo menyatakan, tema yang diusung dalam FIABCI Asia Pacific Regional Secretariat Summit kali ini bisa diimplementasikan karena adanya kesesuaian dengan kondisi yang berlaku di kota-kota di Indonesia.

Sementara itu Ketua Umum Haritage Indoneia I Gede Ardika menyambut baik langkah-langkah yang digulirkan Federasi Realestate Internasional dan REI tersebut sebagai upaya pengembangan kawasan warisan budaya namun juga tetap mempertahankan kelestariannya.

Dalam pertemuan tersebut juga mendorong pemerintah baik pusat maupun daerah untuk membuat regulasi dan aturan yang tegas dan jelas terkait kawasan warisan budaya yang memungkinkan adanya harmoni dan keseimbangan.

"Pemerintah sebagai pemegang regulasi perlu harus lebih jelas dan tegas membuat aturan terkait kawasan itu, sehingga tetap bisa dikembangkan tanpa merubah bangunan atau kawasan itu," kata Teguh.

Presiden FIABCI Asia Pasifik itu menyebutkan Penang, Singapura dan Shanghai merupakan contoh kota yang berhasil melakukan pengembangan kawasan warisan budaya secara harmoni dan berimbang. ***4***

Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026