Direktur PT Aneka Tambang Bajanuddin Tambun sebagai pembicara kunci dalam Konferensi kedua Cadangan Mineral Asia Afrika di Universitas Padjadjaran, Bandung, Senin, mengatakan sabuk cadangan emas dan tembaga juga berada di Sulawesi Utara dan Selatan, Kalimantan Tengah, sampai ke Papua.
"Temuan-temuan mineral itu sekarang sudah sangat signifikan, artinya kita masih punya ruang untuk berburu mineral, artinya peluang kita untuk mendapatkan yang lebih besar lagi sangat besar," tuturnya.
Hanya saja, menurut Bajanuddin, cadangan emas dan tembaga itu sebagian besar berada di kawasan hutan sehingga membutuhkan teknologi serta inovasi khusus yang tidak berdampak merusak lingkungan.
"Tentunya pemerintah punya kebijakan untuk memproteksi hutan, jadi kita dibatasi dengan itu. Kemudian mungkin yang membatasi kita untuk berburu mineral adalah adanya endapan propenik yang lebih muda, tapi itu gunanya ada teknologi dan inovasi," jelasnya.
Selain itu, kata Bajanuddin, eksplorasi di daerah terpencil seperti Papua membutuhkan biaya mahal dan teknologi yang lebih rumit.
Menurut dia, masalah infrastruktur di wilayah luar Pulau Jawa dan sumber daya manusia terutama untuk tenaga ahli merupakan faktor yang menghambat kemajuan industri pertambangan di Indonesia.
Bajanuddin mengatakan cadangan emas dan tembaga terbesar di Indonesia saat ini masih tercatat di kawasan Grasberg, Papua, dengan usia penambangan mencapai 45 tahun.
Sementara itu, Dosen Fakultas Geologi Unpad Mega Rosana mengatakan sumber daya manusia di bidang geologi sebenarnya tidak kalah dari negara lain. Apalagi, lanjut dia, pendidikan geologi saat ini sudah tersebar di banyak perguruan tinggi baik swasta maupun negeri.
"Jadi sumber daya manusia bukan masalah lagi, kecuali untuk beberapa mineral tertentu yang masih membutuhkan teknologi khusus," ujarnya.
Menurut Mega, kerjasama antara dunia akademisi dengan industri pertambangan saat ini sudah berjalan lancar dengan adanya penempatan mahasiswa yang melaksanakan tugas akhir di perusahaan pertambangan.
"Jadi ada support untuk dunia akademik untuk mahasiswa yang dibantu tema riset dan pendanaan, sedangkan untuk perusahaan mendapatkan masukan harus bagaimana arah eksplorasi mereka," jelasnya.
Konferensi kedua cadangan mineral Asia Afrika yang diikuti oleh peneliti dari berbagai negara seperti Jepang, Mesir, dan Filipina, itu diselenggarakan untuk menarik perhatian mahasiswa dan peneliti muda untuk mencari solusi dalam industri pertambangan serta dampaknya terhadap lingkungan.
Sedangkan Rektor Unpad Ganjar Kurnia dalam sambutan pembukaannya berharap dari seminar itu tidak hanya dihasilkan berbagai inovasi untuk menemukan sumber mineral baru tetapi juga teknologi eksplorasi yang ramah lingkungan.***2***
(T.D013/
Diah
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.