"Inflasi pada tiga bulan yakni sebulan menjelang Ramadhan dan sebulan setelah Ramadhan pada 2011 sebesar 1,2 persen, sedangkan pada Ramadhan tahun ini diprediksi mencapai 1,5 persen hingga 2,0 persen," katanya di Bandung, Rabu.
Pemicunya, kata Lucky, antara lain adalah antisipasi kalangan industri terkait kebijakan pemerintah menaikkan harga gas, kebijakan pemerintah mengarut pintu masuk impor hortikultura.
Selain itu ketidakpastian pemulihan ekonomi global yang berpotensi memicu tekanan nilai tukar rupiah lebih lanjur serta potensi terlampauinya kuota konsumsi BBM bersubsidi pada APBN Perubahan 2012.
"Keempat fenomena itu bisa memberikan dampak lanjutan terhadap memburuknya ekspekstasi inflasi masyarakat," katanya.
Untuk itu, Tim Pengendali Inflasi Derah (TPID) Jabar bergerak berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk pengendalian inflasi.
Salah satunya, mendorong pemerintah daerah untuk mengintensifkan operasi pasar (OP) dengan pembiayaan APBD Jabar sebesar Rp10 miliar, pasar mudah serta menggelar operasi pasar beras termasuk Rapel Raskin pada Ramadhan.
"Perkembangan terakhir, bahan makanan di Jabar memadai untuk Ramadhan, termasuk stok daging ayam, dan cabai merah," katanya.
Di sisi lain, Tim Pengendali Inflasi Derah (TPID) Jabar mengimbau masyarakat untuk mengubah pola konsumsi dalam pemenuhan protein hewani menjadi protein nabati serta mengganti cabai kering dengan sambal botola.***2***
(S033)
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.