"Setelah dilintasi jalan tol iklim di sana tidak sejuk lagi, sudah ada polusi sehingga hasil tehnya juga kurang bagus. Ada dua opsi diganti dengan bibit teh baru atau diganti dengan tanaman produktif lainnya, salah satunya karet," kata Dahlan Iskan di sela-sela menjadi motivator bagi nasabah PT Permodalan Nasional Madani di Bandung, Minggu.
Menurut Dahlan, hasil teh dari perkebunan teh yang terbelah oleh Jalan Tol Purbaleuyi tersebut saat ini kurang menguntungkan bahkan memberikan potensi kerugian bagi PTPN VIII.
Salah satu penyebabnya adalah perubahan iklim seusai dibukanya jalan tol. Suhunya berubah begitu pula dengan polusi yang membuat teh di kawasan itu menjadi kurang produktif.
"Bila ganti bibit, perlu dicarikan bibit yang tahan dan unggul untuk kondisi seperti di sana. Tapi itu sangat sulit, diganti tanaman produktif lainnya sangat memungkinkan," katanya.
Selain itu peralihan menjadi fasilitas umum yang memberikan manfaat lebih menguntungkan lagi bisa dilakukan, seperti dijadikan kawasan wisata dengan berbagai fasilitasnya.
"Bisa juga kawasan diubah menjadi lokasi wisata, contohnya. Perlu ada penanganan kawasan itu agar lebih produktif dan cocok dengan karakter lokasi," katanya.
Dahlan menyebutkan, penanganan harus dilakukan segera agar memberikan jalan keluar, termasuk juga menghindari kerugian yang lebih besar lagi bagi perkebunan itu.
"Kehadiran jalan tol memberikan dampak, salah satunya bagi perkebunan. Namun hal itu perlu dilakukan penyesuaian dengan kondisi itu," kata Dahlan Iskan.
Sebelumnya berkembang, kawasan itu akan digunakan pembangunan Kota Baru Walini yang disebut-sebut menjadi pencetakan kota berwawasan ramah lingkungan di kawasan Bandung Raya itu. ***2***
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.