Padahal pada tahun sebelumnya, jumlah desa rawan bencana hanya berjumlah 104 desa atau 63 persen. Meningkatnya jumlah desa rawan bencana karena tingginya potensi bencana itu tidak lepas dari kontur tanah, kata Kabid Rehabilitasi dan Rekostruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB Dani Prianto Hadi saat dihubungi wartawan, Minggu.
"Jenis bencana alam di desa rawan bencana itu bisa beragam. Potensi bencana yang bisa timbul seperti angin puting beliung, banjir, kebakaran, longsor atau bencana retakan tanah seperti pernah terjadi di Kampung Tipar Desa Laksanamekar, Padalarang," ujarnya.
Menurutnya dari 15 kecamatan yang ada di KBB sebanyak 10 kecamatan diantaranya merupakan rawan bencana longsor yaitu Kecamatan Cikalongwetan, Cisarua, Rongga, Gununghalu, Parongpong, Lembang, Cipeundeuy, Batujajar, Sindangkerta, dan Kecamatan Cililin.
Sebelumnya, Kepala Pusat Survei Geologi Badan Geologi, Ade Jumarma mengatakan, patahan Lembang yang memanjang sekitar 22 kilometer di kaki Gunung Tangkuban Perahu, KBB diprediksi masih aktif.
Keaktifan itu bisa memperkuat guncangan gempa bumi. Parahnya efek gempa di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, pada Agustus lalu dipicu oleh pergerakan patahan Lembang menjadi salah satu contohnya.
"Gempa di Cisarua terletak di sekitar Patahan Lembang. Struktur batuan di patahan biasanya lebih lembek sehingga bersifat memperkuat goncangan gempa bumi," ujarnya.
Ade menambahkan, selama 2011 terjadi beberapa kali gempa di sekitar patahan tersebut. Intensitasnya dua sampai tiga skala Richter. Hal ini jelas semakin memperkuat dugaan bahwa Patahan Lembang masih aktif.***4***
Hedi A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.