"Darah yang tersedia paling juga ada satu atau dua labu," ujar Desta, petugas unit transfusi darah PMI Kabupaten Purwakarta, Selasa.
Dalam kondisi seperti sekarang ini, menurut dia, cukup merepotkan bagi pasien yang memerlukan tambahan darah.
Satu-satunya jalan adalah keluarga pasien harus mendonorkan darah, dan tidak mengandalkan pengadaan darah di PMI, katanya.
Dikatakannya permintaan darah dari Rumah Sakit Bayu Asih Purwakarta, selama bulan puasa relatif tinggi, sedangkan pedonor hampir tidak ada.
Permintaan darah terutama untuk persalinan, operasi dan kecelakaan.
"Bagi yang memerlukan darah, kami sarankan agar membawa keluarganya untuk donor, kendati hal itu cukup merepotkan," tutur Desata.
Ia menyebutkan menipisnya stok darah karena sepinya pedonor selama bulan puasa. Para pedonor aktif itu beramai-ramai mendonorkan darah sebelum bulan puasa.
PMI Kabupaten Purwakarta juga mengakui pedonor darah di wilayah ini relatif terbatas karena rendahnya kesadaran warga atas pentingnya kegiatan kemanusiaan itu.
"Termasuk anggota DPRD Purwakarta, hanya beberapa orang saja yang jadi pedonor," tutur petugas PMI.
Pedonor aktif selama ini umumnya dari kalangan perusahaan swasta, meski jumlahnya relatif kecil dibanding dengan banyaknya pabrik-pabrik industri di Purwakarta, sekarang ini.
Adjat S
Editor : Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.