Cimahi, 14/12 (ANTARA) - Warga RW 2 Kelurahan Melong Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jabar, minta Pemkot Cimahi serius dalam menyelesaikan persoalan banjir kiriman yang selalu terjadi di wilayah mereka.

Karena sejak tahun 2000 dan sudah 10 tahun tidak pernah ada penyelesaian yang konkrit oleh Pemkot Cimahi, kata Ketua RW 02 Arifin Kanditje , Selasa.

Menurutnya, justru selama ini pihak swasta banyak berperan dalam menyelesaikan banjir tersebut.
Dikatakakannya, banjir terjadi setiap kali Sungai Cibaligo meluap dan air kiriman berbagai wilayah lain melalui drainase.

Banjir mengakibatkan 1.800 jiwa atau 600 kepala keluarga (KK) di 5 RT pada RW tersebut merasakan dampaknya disamping juga akses jalan yang terputus.

"Banjir terjadi merata dengan kedalaman bervariasi antara satu meter hingga dua meter di pemukiman penduduk dan satu meteran di Jalan Gempol Sari Raya," ujarnya.

Dikatakannya, banjir menimbulkan beragam kerugian termasuk mempengaruhi kesehatan warga. "Lama air menggenang saat ini bisa sekitar dua jam, warga sudah sangat mengeluh, mereka lelah dengan banjir," ucapnya.

Warga, kata dia sangat menuntut penanganan secara komprehensif oleh pemkot dengan melakukan normalisasi sungai yang terus mengalami pendangkalan dan penyempitan.

Upaya pengajuan penanganan sudah disampaikan ke pemkot dan sampai anggota dewan daerah pemilihan (Dapil) Cimahi Selatan, namun tak juga ada tanggapan hingga kini.

Kedalaman sungai tahun 1991 sekitar tujuh meter, sekarang hanya tinggal kurang dari tiga meter, begitu juga dengan lebarnya terus berkurang.

Hanya janjir-janji saja akan menangani,tanpa realisasi, selama ini penanganan hanya swadaya.

"Warga membangun tembok tinggi depan rumah mereka, kami juga sering bergotong-royong melakukan normalisasi dengan cangkul, selain pernah juga ada perusahaan mengeruk sungai," bebernya.

Ditegaskannya, kekecewaan warga pun akan ditumpahkan pada anggota DPRD Kota Cimahi. Bahkan warga mengancam akan menolak siapapun anggota dewan yang hadir di wilayah mereka. Pasalnya, saat ini justru anggota dewan tak ada yang datang menengok dan membantu penyelesaian persoalan warga.

"Kami hanya diminta terus bersabar menghadapi banjir. Makanya, warga mengancam akan 'golput' dari pemilihan legislatif mendatang karena warga seakan telah kehilangan kepercayaan. Tak menutup kemungkinan kami tidak akan memberikan suara,"katanya.

Selain itu, warga pun akan menyarlurkan kekesalannya dengan menutup seluruh saluran drainase yang masuk ke wilayah mereka.

"Warga sudah sangat marah. Mereka akan menutup seluruh saluran air, agar daerah lain terkena banjir yang sama. Dengan begitu, mungkin pemkot akan memperhatikannya," katanya.***3***


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026