Seniman karawitan Dodong Kodir (51) dan kreogarafer tari alam Taufik Hidayat (40) memainkan suara alat-alat musik sederhana yang ditemukan Dodong pada era 90-an mengiringi tarian kegelisahan kehancuran alam.
Tidak kalah dengan nada-nada alat musik modern, alat-alat yang terbuat dari limbah-limbah sampah ini pun mampu menghasilkan komposisi yang mewakili siklus alam.
Dengan tabung limbah mesin cuci, tempat pakan ayam, cup mie yang telah di daur ulang, menjadi kecapi, chiken drum, sagara, jerame dan Alpedo.
Dodong mampu membawa instrument musiknya hingga kebeberapa negara, seperti Spanyol, Yunani, Inggris, Belgia dan Jepang.
Ia menjelaskan, inspirsi membuat komposisi musik dari alat limbah sampah tidak menutup kemungkinan datang dari peristiwa-peristiwa yang menyentuh hatinya , seperti ketika peristiwa Situgintung atau Tsunami Aceh terjadi, dengan begitu diharapkan masyarakat paham bahwa alunan musik limbahpun dapat mencatat sejarah.
Hal ini jugalah yang menjadikan ketertarikan tersendiri bagi Taufik Hidayat selaku kreogarafer tari untuk menggandeng Dodong, berkolaborasi dalam tema "Tirta Kemulyan" pada temu karya seniman Indonesia yang akan berlangsung di Riau 23 Juli mendatang.
Taufik menambahkan, dalam tema Tirta Kemulyan dapat diartikan sebagai air kehidupan.
Pada tarian tersebut dapat ditemukan pula simbol-simbol kecintaan pada alam, nilai-nilai kemanusiaan yang telah terlupakan hingga, memunculkan kerinduaan akan "Si Empunya" kehidupan.
Ia pun memberi apresiasi pengabdiaan tradisi kecintaan lingkungan, pada Dodong Kodir yang telah menciptakan berbagai bentuk alat musik dari limbah, sehingga dapat menjadi inspirasi tersendiri untuknya ataupun bagi seluruh pendengar alunan nada musik sampah di Kota Bandung.***4***
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.