Depok, 12/7 (ANTARA) - Program infotainment yang marak dalam industri pertelevisian saat ini memiliki keterkaitan dengan kekuasaan dan menjadi tempat pertarungan berbagai kepentingan, demikian isi disertasi yang akan dipertahankan oleh Mulharnetti Syas dalam promosi doktor dari Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Selasa (13/7).

Acara promosi doktor tersebut akan berlangsung di Gedung FISIP UI Depok, diketuai oleh Prof. Dr. Ilya Revianti S.

Menurut siaran pers UI, Senin, disertasi Mulharnetti Syas yang berjudul "Relasi Kekuasaan dalam Budaya Industri Televisi di Indonesia" itu mengkaji proses produksi program infotainment di industri televisi Indonesia.

Penelitian ini bertujuan untuk mengamati tentang segala yang terjadi dan menganalis bagaimana fenomena proses produksi program infotainment dalam kaitannya dengan relasi kekuasaan, pertarungan kepentingan, dan kaitannya dengan etika kapitalisme dalam budaya industri televisi di Indonesia.

Adanya relasi kekuasaan yang terjadi dalam budaya industri televisi di Indonesia pada program infotainment menunjukkan adanya pertarungan kepentingan antara praktisi infotainment, selebritas, pemilik televisi, pemasang iklan, negara, pasar, dan masyarakat sipil.

Kesimpulan penelitian Mulharnetti adalah adanya relasi kekuasaan di industri televisi menyebabkan program infotainment menjadi produk budaya popular dan berbentuk program gossip yang tidak mematuhi Kode Etik Jurnalistik.

Pada hari yang sama (Selasa), FISIP UI juga menggelar sidang promosi doktor atas nama Mohammad Nasih dari Departemen Ilmu Politik.

Mohammad Nasih yang juga staf ahli bidang politik di DPR RI itu mengusung disertasi bertema "Dinamika Antara Islam dan Nasionalisme di Turki dan Indonesia (1985-2010)".

Menurut dia, seperti dirilis humas UI, dinamika antara Islam dan nasionalisme di Turki dan Indonesia terjadi karena adanya perspektif yang mendikotomikan antara Islam dengan nasionalisme.

Islam dipandang sebagai nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan dan bersifat sakral. Sedangkan nasionalisme dianggap sebagai konsensus, oleh karena itu bersifat profane atau sekuler, terlebih kelahirannya dipicu oleh perlawanan terhadap praktik sistem religio-politik integralisme Katholik di abad pertengahan.

Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa dinamika antara Islam dan nasionalisme di Turki dan Indonesia terjadi dalam organisasi-organisasi masyarakat sipil, partai-partai politik, dan lembaga-lembaga Negara/pemerintahan.

Teguh Handoko


Editor : Teguh Handoko

COPYRIGHT © ANTARA 2026