Bandung, 18/6 (ANTARA) - Inflasi Jawa Barat secara triwulanan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, karena naik harga bahan pokok terutama beras.

"Berbeda dengan inflasi 2009 yang cenderung tidak begitu besar, namun inflasi triwulanan 2010 jauh lebih besar," kata Peneliti Ekonomi Madya Kantor Bank Indonesia (KIB) Bandung, Naek Tigor Sinaga pada workshop pengendalian inflasi Jabar di Kota Bogor, Jumat.

Pola musiman kenaikannya meningkat dari 0,29 persen 'quater to quarter' (qtq) menjadi 0,96 persen.

Ia menyebutkan, sumbangan kenaikan laju inflasi pada triwulan pertama 2010 terutama berasal dari sisi nonfundamental yakni kenaikan harga 'volatile foods' khususnya beras.

Selain itu juga dipicu kenaikan harga BBM nonsubsidi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak bumi di pasar dunia.

Meski demikian, Tigor Sinaga menyebutkan secara tahunan inflasi Jabar masih berada pada level yang terkendali, meskipun meningkat tipis dari 2,02 persen yoy pada triwulan IV tahun 2009 menjadi 2,99 persen pada triwulan I tahun 2010.

"Relatif terkendalinya inflasi di Jabar terutama cukup terjaganya pasokan bahan pangan khususnya komoditas strategis seperti daging ayam, telur ayam ras, sayur mayur dan ikan segar dibandingkan tahun sebelumnya," kata Tigor yang juga anggota Tim Koordinasi Pengendalian Inflasi Jabar.

Selain itu juga pengaruh eksternal yakni apresiasi nilai tukar rupiah dan rendahnya inflasi dunia menyebabkan perbaikan ekspektasi harga pelaku usaha.

"Awal 2009 memang ada gejolak kenaikan harga beras yang mencapai 15 persen, namun beberapa upaya dilakukan salah satunya dengan mempercepat pengucuran beras untuk keluarga miskin (raskin) sehingga cukup berpengaruh dalam normalisasi harga," kata Tigor.

Tim Kordinasi Pengendalian Inflasi (TKPI) berfungsi maksimal, meski baru di tingkat daerah baru terbentuk di Bandung, Cirebon dan kawasan Tasikmalaya.

TKPI Jawa Barat mendorong agar tim serupa juga dibentuk di Kota Bogor, Depok dan Bekasi yang memiliki kontribusi inflasi cukup signifikan baik untuk wilayah Jabar maupun terhadap inflasi nasional.

"Kontribusi inflasi di ketiga kota itu cukup besar dan penduduknya juga cukup padat, kami mendorong dibentuk TKPI di Bogor, Bekasi dan Depok," kata Tigor Sinaga.

Sementara itu Kepala Bidang Distribusi Statistik BPS Jawa Barat, Anggoro menyebutkan kontribusi bobot inflasi di tiga kota di Jawa Barat cukup signifikan bagi penghitungan inflasi nasional yakni Kota Bandung 5,38 persen, Kota Bekasi 5,26 persen dan Kota Depok 3,76 persen.

"Bogor dan Depok selama ini selalu inflasi, kota lain deflasi kedua kota itu deflasi, sehingga perlu pengendalian intensif lagi," kata Anggoro.

Kepala Bidang Distribusi Statistik BPS Jabar itu menyebutkan, pencatatan indek harga konsumen (IHK) di Jawa Barat dilakukan di 17 pasar tradisional dan 13 pasar modern di tujuh kota pantauan seperti di Bandung, Sukabumi, Cirebon, Bogor, Depok dan Bekasi.***2***

(U.S033/B/H-CS/H-CS) 18-06-2010 13:36:58


Editor :

COPYRIGHT © ANTARA 2026