Garut, 4/3 (ANTARA) - Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Dr Surono kerap mengingatkan, kondisi gunung api Guntur Garut berpotensi terjadinya longsor lahar dingin menyusul selama ini gencar dilakukan penambangan pasir.

Bahkan dia pernah merekomendasikan, agar Pemkab setempat mengosongkan pemukiman penduduk di sekitar kaki lereng gunungapi yang hingga kini masih berstatus aktif normal itu, sebagaimana diungkapkan petugas pos pengamatan gunung api Garut, Trisno, Kamis.

"Justru yang harus diwaspadai ancaman terjadinya bencana longsor lahar dingin, bukan aktivitas gunung tersebut yang dikhawatirkan saat ini," katanya menyikapi adanya sinyalemen telah terjadi semburan lahar panas.

Gunung api berbentuk strato dengan ketinggian puncaknya 2.249 mdpl tersebut, berjarak sekitar 1.600 meter dari pusat kota Garut, dengan letak geografinya pada 07 derajat 08 menit 30 detik Lintang Selatan serta 107 derajat 20 menit Bujur Timur, katanya.

Memiliki beberapa anak gunung, yang salah satu diantaranya telah terjadi longsoran lahar dingin pada tebingnya, mengakibatkan 75 hektare sawah dan sekurangnya 20 rumah di kecamatan Samarang tergerus serta terbenam.

Sehingga sampai sekarang, sekitar 344 kepala keluarga (KK) atau 2.510 penduduk masih dievakuasi pada 23 titik pengungsian, bahkan juga terdapat 388 KK atau 2.165 warga lainnya terancam, kata camat Samarang Dra Rusmanah, saat ditemui terpisah.

Sedangkan penyebabnya, antara lain terjadi alih fungsi hutan lindung menjadi areal pertanian sayur-mayur, selain daerah tersebut termasuk rawan bencana, katanya.

Karena itu, masyarakat jangan resah akibat aktif normalnya gunung api itu, melainkan peliharalah alam dan lingkungan sekitarnya, karena ancaman saat ini bukan lahar panas melainkan lahar dingin, yang mengendap bekas letusan beberapa ratusan tahun lalu.

Sementara itu, kegiatan penambangan pasir masih terus berlangsung dengan alasan dilakukan pada tanah milik masyarakat, nyaris pada seluruh kaki lereng gunung itu yang sekarang konsisi kerusakan lingkungannya semakin parah.

John D Hidayat


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026