"Berdasarkan kelompok pengeluaran Februari 2010 enam kelompok pengeluaran mengalami inflasi, terbesar di kelompok bahan makanan sebesar 1,09 persen," kata Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jabar, Anggoro Dwitjahyono di Bandung, Senin.
Inflasi juga di kelompok makanan jadi, minuman dan termbakau 0,36 persen, transport komunikasi dan jasa keuangan 0,13 persen, kesehatan 0,10 persen, perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,08 persen dan pendidikan dan rekreasi dan olahraga 0,07 persen.
Sedangkan kelompok sandang mengalami deflasi sebesar 0,08 persen.
Inflasi yang terjadi di tujuh kota di Jabar itu mengalami penurunan dibandingkan inflasi pada Januari 2010 yang tercatat 0,77 persen.
Sedangkan inflasi year on yeas selama 12 bulan terakhir di Jabar terjadi inflasi sebesar 3,40 persen.
"Februari 2010 seluruh kota di Jabar serentak mengalami inflasi, tertinggi di Kota Bekasi 0,65 persen dan terendah di Kota Cirebon 0,07 persen," kata Anggoro.
Sedangkan inflasi dalam Januari hingga Februari 2010 sebesar 1,15 persen yang disumbang dari inflasi terbesar di kelompok makanan sebesa 0,99 persen. Sedangkan lima kelompok lainnya hanya 0,16 persen.
"Kenaikan harga beras pada Februari 2010 dan beberapa komoditas makanan lainnya memberi andil tertinggi bagi inflasi di Jabar yakni sebesar 0,19 persen," katanya.
Deflasi sektor sandang di Jabar tidak signifikan, meskipun ada beberapa komoditi mengalami penurunan seperti perhiasan emas, pakaian anak, pakaian bayi, pakaian anak dan lainnya.
Sementara itu inflasi tertinggi secara nasional terjadi do Kota Maumere sebesar 1,30 persen dan deflasi terendah terjadi di Kota Ternate 0,07 persen.
Sedangkan di Pulau Jawa, enam ibukota provinsi mengala inflasi, tertinggi di Kota Semarang 0,47 persen dan terendah Kota Serang sebesar 0,06 persen.
Syarif abdullah
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.