Terciptalah ide untuk membuat alat usaha laminating keliling yang bisa bergerak dengan menggunakan sepeda atau sepeda motor.
"Mesin laminating selama ini statis, hanya di toko buku dengan pemanas listrik. Saya coba alat laminating yang enteng dibawa ke mana-mana untuk mendekati tempat keramaian atau perkantoran," kata Deni Sunarya saat mangkal di depan Gedung Sate Kota Bandung.
Alat yang dirakitnya itu berupa alat laminating dengan bahan bakar spritus dan sebuah alat tekan yang dimodifikasi dari gulungan mesin fotocopy.
Proses laminatingnya seperti tambal ban; plastik dipanaskan dengan api dari spritus, kemudian di tekan alat yang diputar dengan engkol.
Biaya laminating sebuah dokumen seukuran SIM atau KTP dikenakan tarif Rp5.000.
Menurut pengakuan Deni, dalam sehari ia bisa menghabiskan satu pak plastik laminating dengan jumlah 50 eksemplar dengan lokasi yang berpindah-pindah dari kantor ke kantor atau tempat keramaian.
"Biaya plastik Rp150.000, sehingga untungnya Rp100.000," kata Deni yang menamai usahanya itu dengan "Dens Laminating".
Pria kelahiran Bandung 43 tahun lalu itu kini memiliki jaringan puluhan unit usaha laminating keliling yang ia namai "Keluarga Besar Laminating Keliling".
Beberapa jaringannya ada di luar daerah, seperti DKI Jakarta, Lampung, Jambi, Batam, dan Riau.
"Ada 20 cabang di Kota Bandung, lainnya di luar daerah. Semuanya keluarga saya yang sebelumnya menganggur. Rata-rata bisa jalan dan diminati masyarakat," kata pria berputra dua itu.
Semuanya menggunakan label "Dens Laminating" dengan gambar Surat Izin Mengemudi (SIM) atas nama Deni Sunarya sang pencetus ide laminating keliling itu.
Namun dengan cabang laminating keliling yang mencapai 35 unit itu, Deni tidak sadar bila usaha jaringannya itu merupakan bentuk waralaba yang potensial dan memberikan lapangan pekerjaan yang membantu perekonomian keluarga.
Dengan penghasilan Rp 75.000 hingga Rp 100.000 per hari dari pelaku laminating keliling, memberikan solusi bagi masyarakat yang kesulitan ekonomi.
"Tinggal rajin saja bergerak dari kantor ke kantor hingga tempat pembuatan SIM di Kantor Polisi, Insya Allah ada peminatnya. Dan alhamdulillah keluarga saya punya pekerjaan, banyak yang lain minta dibuatkan alat laminating itu," kata Deni.
Kunci usahanya, menurut dia, selain memberikan kemudahan bergerak dengan alat yang dirakitnya itu, ia juga membuat plastik dokumen itu dengan plastik khusus yang lebih tebal namun lebih elastis dibandingkan plastik laminating yang ada saat ini.
"Plastiknya seperti plastik laminating jaman dulu, lebih tebal namun lentur. Kualitasnya lebih baik dibandingkan plastik laminating kebanyaan sekarang," katanya.
Tak heran dengan plastik khusus yang lentur itu, laminating kelilingnya menjadi pilihan, Untuk menarik minat, Deni menyertakan hasil laminating di toko dengan hasil laminating di mesin rakitannya.
Namun dia hanya memfokuskan laminating ukuran kecil atau seukuran KTP dan SIM. Mesin laminating kelilingnya belum bisa melayani laminating ukuran besar seperti ukuran ijasah atau HVS.
Ia mengaku, penghasilan yang diperolehnya saat ini melebihi pendapatannya saat masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan minuman botol di Bandung atau jadi operator mesin di sebuah perusahaan bordir.
Tak dijual
Sementara itu, Deni punya cara untuk pengembangan usaha jaringannya. Ia tidak menjual mesin laminating kelilingnya melainkan hanya siap melepas dengan sistem bagi untung
Modal pembuatan mesin laminating keliling itu tidak lebih dari Rp 1 juta. Ia membuatnya dari mesuk fotocopy rongsokan. Ia hanya menggunakan rolnya saja untuk mengepres. Kadang satu rol bisa dibuat dua hingga tiga mesin laminating ukuran kecil.
Sedangkan untuk membuat pemanasnya, Deny melakukannya dengan mengelas sendiri di bengkelnya.
"Mesinnya sederhana, tidak saya jual meski banyak permintaan dari peminat. Kalau mau bagi untung boleh gunakan mesin saya, namun tak dijual," katanya.
Namun kunci dari usahanya, kata Deni, terletak pada plastik pelapis laminatingnya yang tidak bisa dijumpai di tempat lainnya.
Ia meramu khusus plastik laminatingnya itu sehingga menjadi kekuatan usahanya. Ia juga memasok plastik laminating untuk jaringan usahanya itu.
"Plastiknya hanya ada di saya, tidak bisa dibeli di tempat lain. Saya meramu lemnya dengan plastik yang lentur, kemudian disebarkan ke jaringan Keluarga Besar Laminaing Keliling," katanya.
Berkat usaha yang dirintisnya selama lima tahun itu, ia mengaku bisa menghidupi keluarganya dan menabung. Hal itu berbeda dengan ketika ia masih bekerja sebagai karyawan yang hanya cukup untuk keperluan sehari-hari.
Meski demikian, ia mengaku belum puas dan berniat untuk merakit beberapa mesin usaha lainnya yang akan digulirkan secara jaringan.
"Usaha seperti ini kan ada masanya, jadi hal itu memacu saya untuk mengembangkannya. Namun sepanjang masyarakat punya KTP, SIM dan kartu seukurannya, jasa laminating masih diperlukan," kata Deni.
Syarif Abdullah
(T.S033/B/s018/C/s018) 09-02-2010 07:57:31
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.