Garut, 30/1 (ANTARA) - Bencana tanah longsor pada belasan titik lokasi di lintasan ruas jalan provinsi sepanjang 41 Km, yang menghubungkan kecamatan Cisewu Garut dengan Pangelengan Bandung, mengakibatkan kecamatan Talegong menjadi terisolir.

Karena terletak pada pertengahan antara Cisewu dengan Pangalengan, yang sejak Jumat sore (29/1) hingga beberapa hari mendatang dipastikan sama sekali tidak bisa dilewati kendaraan, kata camat Talegong Garut, Rena Sudrajat, Sabtu.

Sepanjang ruas jalan tersebut sangat banyak lokasi longsoran tanah, batu dan lumpur dari perbukitan yang menutupi ruas jalan sehingga jangankan kendaraan roda empat, speda motor jenis apapun tak bisa melintasinya, padahal merupakan urat nadi sarana mobilitas satu-satunya perekonomian warga setempat.

Karena selama ini, warga di wilayah Talegong umumnya mendapatkan pasokan pemenuhan kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) dari Pangalengan Bandung, yang sekaligus sebagai pangsa pemasaran hasil pertanian tanaman pangan masyarakat asal Talegong, katanya.

Mereka lebih banyak memiliki akses perekonomian dari dan ke Pangalengan Bandung, daripada ke pusat kota Garut, yang jarak tempuhnya sangat lebih jauh.

Sedangkan kegiatan pembersihan ruas jalan yang tertimbun longsoran, dipastikan paling cepat bisa tuntas selama dua hingga tiga hari, itupun jika menggunakan peralatan berat dari Dinas Pekerjaan Umum maupun Bina Marga secara operasional penuh.

Menyusul sangat banyaknya longsoran tanah, batu dan lumpur, tidak mungkin bisa hanya dibersihkan dengan peralatan manual secara bergotong royong warga setempat, sebab intensitas longsorannya mencapai ribuan kubik tanah, batu dan lumpur, ujar camat Rena Sudrajat.

Sabtu sore ini, mobilitas peralatan berat masih dalam perjalanan menuju setiap titik peristiwa longsoran, yang mencapai belasan lokasi, sehingga diharapkan bisa dioperasionalkan penuh agar segera dapat dituntaskan pembersihannya.

Sedangkan tiga rumah penduduk di kecamatan Talegong, yang total terkubur longsoran tanah dan batu, terdiri milik Dasma(27) dengan tiga tanggungan keluarga di kampung Warung Gantung, milik Dedi Sopandi(50) dengan empat tanggungan keluarga di kampung Ranca, serta rumah milik Asep(28) dengan tiga tanggungan keluarga di kampung Pogor.

Mereka terpaksa melakukan pengungsian ke rumah saudara serta kerabat terdekat, yang sebelumnya nyaris terkubur hidup-hidup, namun berhasil menyelamatkan diri bersamaan bergemuruhnya bunyi longsoran, meski seluruh harta benda mereka termasuk peralatan rumah seluruhnya terkubur, selain hanya pakaian di badan, tutur Rena Sudrajat.



John D Hidayat
(U.PK-HT/B/Y003/Y003) 30-01-2010 16:44:49


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026