Dirjen P2MKT Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Joko Sidik Pramono di Indramayu, Rabu, mengatakan, ziarah itu penting dilakukan untuk kembali mengingat kejadian penting dalam sejarah pembangunan transmigrasi di Indonesia karena kejadian tersebut sangat memilukan.
"Mereka yang meninggal di tempat ini merupakan kelompok warga pertama yang akan diberangkatkan ke lokasi transmigrasi pertama di Indonesia. Mereka adalah pionir pembangunan transmigrasi," kata Joko.
Ia menambahkan, di era saat ini transmigrasi masih bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan sosial bagi daerah yang memiliki kepadatan penduduk sangat tinggi.
Namun demikian, katanya, tidak semua orang bisa memahami akan pentingnya transmigrasi. Tetapi, pihaknya tetap optimistis program transmigrasi di masa mendatang akan terus dijalankan.
"Demi sebuah kehidupan dan masa depan yang lebih layak, maka ratusan kilo meter transmigran asal Kecamatan Ngandon, Kabupaten Boyolali, menempuh perjalanan untuk menuju lokasi transmigrasi yang terletak UPT Rumbiya, Propinsi Sumatera Selatan, pada 11 Maret 1974 lalu," katanya.
Namun harapan itu kandas setelah bus yang ditumpangi mereka tergelincir kemudian masuk sungai dan terbakar di Kali Sewo, Desa Sukra Indramayu," katanya.
Musibah yang terjadi pada pukul 04.30 WIB dini hari tersebut terjadi pada salah satu dari enam bus yang akan berangkat. Musibah itu mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 67 orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak.
Di antara rombongan yang mengalami musibah, terdapat tiga orang anak-anak selamat yang kemudian diangkat sebagai "anak angkat" keluarga besar transmigrasi. Mereka adalah Jaelani, Suyanto, dan Sangidu. Korban tewas semuanya dimakamkan di dekat pemakaman umum yang terletak dekat lokasi kejadian.
"Itulah sepenggal kisah yang memilukan yang terjadi pada 11 Maret 1974 silam, yang merenggut nyawa dari para pionir pembangunan transmigrasi," ujarnya.
Ziarah tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Indramayu Drs Supendi, Kepala OPD, Camat, anggota TNI/Polri, dan peserta ziarah lainnya, serta dua orang yang selamat pada kejadian 1974 silam yakni Jaelani dan Suyanto.***3***
Enjang Solihin
(T.PSO-061/B/A041/A041) 09-12-2009 07:40:33
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.