Tak semua jalan menuju Tanah Suci lahir dari kelapangan rezeki. Salah satunya Eye Sunarya yang menempuhnya lewat perabot dapur berbahan bambu, dijajakan keliling sambil mengumpulkan tabungan kecil selama bertahun-tahun.

Halaman Pendopo Bupati Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (25/4) pagi, ramai oleh koper, pelukan haru, serta doa keluarga yang mengantar calon haji.

Di tengah suasana itu, ia berdiri tenang dengan baju biru muda, peci hitam, dan syal putih penanda calon haji yang melingkar di lehernya.

Pria berusia 54 tahun asal Desa Tarikolot, Kecamatan Palasah, Majalengka itu lebih akrab dipanggil Wa Mumu. Warga mengenalnya sebagai pedagang yang saban hari menjajakan perlengkapan rumah tangga hasil anyaman bambu.

Pagi itu, ia diberangkatkan menuju Asrama Haji Indramayu sebelum melanjutkan perjalanan ke Tanah Suci melalui Bandara Kertajati bersama istrinya, Siti Mariah (48), untuk menunaikan ibadah haji.

Keberangkatan tersebut menjadi jawaban atas ikhtiar panjang, hampir 12 tahun, yang dijalani setapak demi setapak.

Sejak lulus sekolah dasar pada 1981, hidupnya lekat dengan bambu. Boboko, tampah, kipas, hingga ayakan menjadi bagian dari keseharian yang akrab di tangan dan pundaknya.

Sekitar 1992, saat masih bujangan, ia mulai serius berjualan keliling. Seluruh barang dipikul sendiri, lalu dibawa menyusuri kampung demi kampung.

“Kalau jualan sih semenjak masih bujangan. Sekitar tahun 1992 mulai terjun ke dunia anyaman-anyaman,” katanya.

Pintu rumah warga diketuk satu per satu. Barang ditawarkan dengan sabar. Jika belum laku, ia melanjutkan langkah ke kampung berikutnya.

Ketika pedagang lain beralih ke kendaraan bermotor, Wa Mumu tetap setia pada cara lama. Baginya, yang utama bukan terlihat mapan, melainkan rezeki cukup untuk keluarga.

Beberapa tahun kemudian, ia merantau ke Purwakarta. Bersama sang istri, usaha itu diteruskan dengan ritme serupa yakni pagi berangkat, sore pulang, lalu kembali bekerja keesokan hari.

Persediaan diambil langsung dari pengrajin di Majalengka. Setelah terkumpul, semuanya dimuat ke mobil bak terbuka untuk dipasarkan kembali.

“Ya mengambil dari Majalengka langsung, dari pengrajin. Kita beli, kita kumpulkan, lalu berangkat ke Purwakarta,” ujarnya.

Satu muatan kadang habis dalam dua pekan, namun pada musim sepi baru laku setelah sebulan. Semua bergantung pada kebutuhan warga.

Keinginan berhaji sudah lama tumbuh. Pada 2013, saat penghasilannya sekitar Rp30 ribu per hari, ia memberanikan diri membeli porsi haji untuk dirinya dan sang istri.

Jumlah itu terasa sempit untuk kebutuhan rumah tangga. Oleh karena itu, setiap rupiah harus dihitung dengan cermat agar impian tetap berjalan.

“Minimal satu hari itu Rp10 ribu harus bisa menyisihkan,” katanya.

Bagi pedagang keliling seperti dirinya, nilai tersebut bukan perkara kecil. Di situlah keteguhan diuji, saat keinginan harus ditahan dan kebutuhan diatur sebaik mungkin.

Nasihat orang tua terus ia pegang. Jangan besar pasak daripada tiang. Maka, sebagian penghasilan dipakai untuk rumah, sisanya disimpan demi ongkos menuju Baitullah.

Hingga pagi itu, di Pendopo Bupati Majalengka, penantian panjang tersebut akhirnya terjawab. Ia tampak lebih banyak tersenyum. Ada lega yang sulit disembunyikan setelah perjalanan panjang tersebut.

“Sangat bahagia sekali. Dengan izin Allah, semoga ini yang sangat dicita-citakan terlaksana,” katanya.

Aan Anwar (kiri) dan Sofiyah Syofwan (kanan), warga asal Cirebon, Jawa Barat, saat bersiap untuk pemberangkatan haji. (ANTARA/Fathnur Rohman)

Kesabaran

Tak hanya Wa Mumu, pengorbanan serupa turut menyertai langkah Sofiyah Syofwan (50) dan Aan Anwar (63) dalam meniti jalan menuju Makkah, Arab Saudi.

Pasangan calon haji asal Cirebon yang kini menetap di Bekasi, Jawa Barat, tersebut tidak pernah menyangka penantian panjang mereka akan berakhir lebih cepat dari perkiraan. 

Sejak mendaftar pada 2014, keduanya sudah menyiapkan diri untuk menunggu lebih dari satu dekade demi bisa berangkat ke Tanah Suci.

Untuk mendapatkan nomor porsi haji, mereka bahkan mengambil keputusan besar. Sebidang tanah yang telah lama dimiliki di Karawang dijual agar bisa memenuhi setoran awal pendaftaran.

“Waktu itu tanah yang sudah lama kami punya di Karawang dijual untuk daftar haji berdua,” kata Sofiyah saat dihubungi ANTARA.

Ia mengaku kala itu, biaya setoran awal haji masih sekitar Rp25 juta per orang. Setelah mendaftar, perjalanan mereka tidak serta-merta ringan.

Keduanya harus kembali menata kondisi ekonomi keluarga, untuk melunasi biaya keberangkatan.

Aan yang bekerja sebagai pemborong bangunan menjadi tumpuan utama. Dari setiap pekerjaan yang didapat, sebagian penghasilan disisihkan sedikit demi sedikit untuk tabungan haji.

“Kalau ada borongan, hasilnya disisihkan terus ditabung. Sedikit-sedikit begitu,” ujarnya.

Rencana keberangkatan yang semula diperkirakan berjalan lancar sempat terganggu. Pada 2022, mereka seharusnya sudah berangkat, namun pandemi COVID-19 membuat seluruh jadwal tertunda. Kemudian bergeser ke 2027.

Perubahan yang berulang membuat keduanya hanya bisa pasrah. Kepastian waktu berangkat terasa semakin jauh, meski masa tunggu sudah dijalani bertahun-tahun.

Namun situasi berubah ketika pemerintah menambah kuota haji di wilayah Bekasi hingga lebih dari 3.000 orang. Penambahan tersebut berdampak pada pergeseran antrean, termasuk bagi Sofiyah dan Aan.

Nama mereka yang semula berada di daftar keberangkatan 2027, akhirnya masuk ke dalam daftar tahun 2026.

Percepatan itu menjadi titik balik. Meski sempat terbebani kenaikan biaya pelunasan, keduanya tetap menyelesaikan seluruh kewajiban hingga siap berangkat.

Kini, menjelang keberangkatan mereka fokus menjaga kesehatan dan menyiapkan perlengkapan ibadah. Koper, pakaian, hingga kebutuhan pribadi mulai dirapikan.

“Perasaannya campur aduk, sedih, senang, bahagia. Semoga diberi kesehatan, kekuatan, dan bisa pulang dengan selamat,” ujarnya.

Pengalaman Sofiyah dan Aan tidak berdiri sendiri. Di balik percepatan antrean tersebut, ada perubahan dalam tata kelola penyelenggaraan haji yang turut memengaruhi sistem secara keseluruhan.

Fungsi

Ada yang berbeda dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Sebab, pengelolaan keuangan kini berada di bawah Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), sementara pelayanan menjadi fokus Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).

Pengelolaan dana haji yang semakin tertata dinilai memberikan dampak terhadap kelancaran penyelenggaraan, termasuk dalam mendukung distribusi manfaat kepada jamaah.

Pada 2025, berdasarkan data BPKH, dana kelolaan haji tercatat mencapai sekitar Rp180 triliun dengan nilai manfaat sekitar Rp12 triliun.

Nilai tersebut didistribusikan kepada jamaah calon haji, baik yang masih menunggu maupun yang sudah berangkat.

Salah satu bentuk manfaat yang langsung diterima adalah uang saku atau living cost. Setiap calon haji memperoleh 750 Riyal Arab Saudi (SAR) sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kemenhaj Kota Cirebon Muhamad Ikbal Sugiana mengatakan pada musim haji tahun ini, tugas dan fungsi kelembagaannya menjadi lebih jelas serta terarah.

Menurut dia, pengelolaan dana haji yang sebelumnya dinilai memiliki kerentanan kini sepenuhnya ditangani oleh BPKH. 

Dengan demikian, kata dia, Kemenhaj dapat mengoptimalkan perannya dalam memastikan kualitas layanan.

“Kalau sekarang sudah, kita berfokus dengan pelayanan. Untuk dana haji merupakan ranahnya BPKH,” katanya.

Selain itu, sekarang mulai ada perubahan mekanisme untuk kuota haji. Jika sebelumnya berbasis wilayah, kini penentuan dilakukan berdasarkan daftar tunggu (waiting list) nasional.

Ikbal menjelaskan, sistem tersebut diterapkan untuk menciptakan keadilan waktu tunggu antar daerah yang selama ini timpang.

Jumlah kuota haji di Kota Cirebon pun mengalami penyesuaian dibanding tahun-tahun sebelumnya yang bisa mencapai 300 orang. Meski demikian, kesiapan pelayanan tetap menjadi prioritas utama di tingkat daerah.

Di Kota Cirebon, total calon haji tahun ini tercatat sebanyak 278 orang, terdiri atas jamaah utama, cadangan, mutasi masuk, serta pembimbing ibadah.

Dari sisi persiapan, seluruh tahapan hampir rampung. Perlengkapan seperti buku manasik dan koper telah didistribusikan, sehingga calon haji kini tinggal menunggu jadwal keberangkatan.

Jamaah calon haji dijadwalkan masuk asrama di Indramayu pada 8 Mei 2026, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan ulang serta menerima fasilitas keberangkatan.

Selain itu, calon haji pun akan dibekali gelang identitas berbasis pemindaian digital untuk memudahkan pelacakan, jika terjadi kondisi tersesat di Tanah Suci.

“Kalau ada calon haji yang tersesat, kita bisa scan. Nanti kelihatan dia kloter berapa, ketua kloternya siapa, dan pemondokannya di mana,” kata Ikbal.

Ia menekankan dengan seluruh inovasi yang dihadirkan, diharapkan mampu meningkatkan kualitas penyelenggaraan ibadah haji secara menyeluruh, hingga ke tingkat daerah.

Pentingnya literasi

Di balik perbaikan sistem dan layanan, ada satu hal lain yang tak kalah penting, yakni kesiapan masyarakat dalam mengelola keuangan syariah sejak dini.

Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib, menilai pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah masih perlu ditingkatkan.

Literasi menjadi langkah awal agar masyarakat mengenal pilihan yang tersedia sebelum memanfaatkannya dalam perencanaan keuangan, termasuk untuk haji.

Dorongan tersebut diwujudkan melalui kegiatan edukasi yang digelar pada Maret 2026 lalu, bertepatan dengan momentum Ramadhan. Kegiatan berlangsung di Ponpes Husnul Khotimah, Kuningan.

Sasaran kegiatan adalah pelajar Madrasah Aliyah, khususnya siswa kelas 11 dan 12 yang sudah memenuhi syarat usia untuk memiliki produk keuangan. Pendekatan disesuaikan dengan karakter pelajar agar materi lebih mudah dipahami.

Pemilihan Ponpes Husnul Khotimah bukan tanpa pertimbangan. Lingkungan ini dikenal memiliki latar belakang wali murid dari kalangan mampu, sehingga dinilai tepat untuk edukasi perencanaan keuangan jangka panjang, termasuk persiapan ibadah haji.

Dalam kegiatan tersebut, OJK Cirebon menggandeng perbankan syariah untuk mengenalkan produk keuangan yang relevan. Salah satunya tabungan haji, termasuk skema untuk mendapatkan porsi haji lebih awal.

Pengenalan ini diarahkan agar pelajar mulai memiliki gambaran tentang pentingnya perencanaan keuangan sejak dini, terutama untuk kebutuhan besar seperti haji.

Hasilnya terlihat dari minat peserta. Sekitar 300 rekening tabungan haji berhasil dibuka dalam kegiatan tersebut.

Agus menekankan edukasi perlu diikuti dengan penggunaan produk secara langsung. Dengan begitu, masyarakat tidak berhenti pada pemahaman, tetapi mulai menerapkannya.

Dalam konteks haji, membuka tabungan menjadi langkah pertama untuk menyusun rencana biaya secara bertahap.

Selain kegiatan di pesantren, OJK Cirebon pun memperluas jangkauan edukasi ke berbagai wilayah. Pendekatan jemput bola dilakukan hingga ke desa dan komunitas.

Kerja sama dengan perbankan terus diperkuat untuk memastikan, ketersediaan layanan yang aman dan sesuai kebutuhan masyarakat.

Ke depan, OJK Cirebon berencana menggandeng Kemenhaj, Kementerian Agama (Kemenag), serta instansi terkait lainnya untuk memperkuat literasi keuangan syariah.

Kolaborasi ini dapat memperluas jangkauan edukasi, sekaligus memperkuat kesiapan masyarakat dalam merencanakan ibadah haji.

Dengan langkah yang lebih terarah, keuangan syariah diharapkan semakin dekat dengan masyarakat. Perencanaan haji pun bisa dimulai lebih awal melalui kebiasaan menabung.

Pewarta: Fatnur Rohman

Editor : Ricky Prayoga


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2026