Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menginventarisasi kerusakan bangunan sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Kecamatan Cisewu yang ambruk akibat bencana alam untuk segera diperbaiki agar siswa dapat kembali belajar dengan nyaman dan tenang.

"Kita sudah menyerahkan laporan dan usulannya, baik ke Kementerian Agama Provinsi, maupun ke Pak Gubernur," kata Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Garut, Saepulloh di Garut, Rabu.

Baca juga: Disdik Garut usulkan sekolah rusak terdampak gempa diperbaiki dari sumber BTT

Ia menuturkan, bangunan lantai 2 sekolah MTsN 3 Cisewu  ambruk pada 22 Februari 2025, beruntung kejadian tersebut tidak menimbulkan korban jiwa karena sedang libur sekolah.

Dia mengatakan kegiatan belajar mengajar sementara dialihkan di tempat lain yang aman sambil menunggu proses mengusulkan perbaikan bangunan sekolah tersebut.

Ia menyampaikan, setelah kejadian tersebut, Kemenag Garut bersama unsur instansi lainnya langsung bergerak membersihkan material bangunan untuk selanjutnya melakukan proses usulan rencana pembangunan kembali. "Penyelesaian tentunya bertahap," katanya.

Ia berharap usulan untuk pembangunan kembali MTsN 3 Cisewu dapat segera direalisasikan dengan gerak cepatnya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang intens memperhatikan dunia pendidikan.

Kegiatan belajar mengajar, kata dia, tentunya akan menjadi perhatian prioritas oleh pemerintah agar siswa bisa kembali belajar di tempat yang lebih aman dan nyaman.

"Pendidikan itu sangat vital untuk keperluan anak-anak, pasti ini kan sifatnya bencana dan darurat, pasti gubernur dan pemerintah pusat pasti memprioritaskan, yang terpenting pendidikan berjalan," katanya.

Kepala MTsN 3 Cisewu, Wawan Suwandani mengatakan, ruang belajar yang dibangun tahun 2010 itu roboh bagian lantai dua akibat bencana alam hujan dan angin kencang yang sebelumnya juga sudah terdampak kerusakan akibat bencana sebelumnya.


Ia menyampaikan, material bangunan yang roboh itu sudah dibersihkan, selanjutnya diusulkan untuk dibangun kembali dengan kebutuhan anggaran sebesar Rp600 jutaan yang diharapkan tahun ini sudah bisa direalisasikan.

"Kalau untuk perbaikan bangunan Rp600 juta, katanya diupayakan tahun ini," katanya.

Ia menyampaikan selama bangunan tersebut belum diperbaiki maka siswa sebanyak 147 orang dialihkan kegiatan belajar mengajarnya di ruang lain seperti perpustakaan, ruang komputer, dan masjid.

"Proses pembelajaran untuk sementara sudah dikondisikan dengan memanfaatkan ruangan yang aman seperti ruangan masjid, ruang perpustakaan, dan laboratorium komputer," katanya.

Baca juga: Bangunan sekolah tahan gempa di Garut sudah bisa digunakan

Pewarta: Feri Purnama

Editor : Yuniardi Ferdinan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025