Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung terus mempromosikan produk makanan atau camilan berbahan lokal sebagai upaya alternatif untuk mencegah ketergantungan terhadap pangan berbahan dasar gandum.

"Kalau itu sih kita terus saja dipromosikan, kembali lagi ke produk olahan berbahan dasar dalam negeri," kata Kabid Distribusi Perdagangan dan Pengawasan Kemetrologian Disdagin Kota Bandung Meiwan Kartiwa di Bandung, Jawa Barat, Sabtu.

Beberapa waktu lalu, Disdagin pun sempat mempromosikan sejumlah UMKM yang memproduksi makanan ringan untuk mempresentasikan produknya ke hadapan pengelola toko swalayan.

Sejumlah produk lokal itu yakni camilan ringan, mulai dari camilan berbahan dasar singkong atau Modified Cassava Flour (Mocaf), camilan berbahan kedelai yakni keripik tempe, hingga kue-kue lainnya yang berbahan dasar sagu.

Sejauh ini, Meiwan mengaku dirinya belum sempat menyurvei harga pangan olahan yang berbahan dasar gandum di pasaran. Namun, menurutnya harga tepung terigu kini mulai mengalami kenaikan.

"Sepengetahuan saya sih terigu sudah mulai naik, tapi makanan jadinya, hasil produk olahannya belum tahu," kata Meiwan.

Dia menilai masyarakat belum bisa secara langsung mengurangi drastis makanan yang berbahan dasar tepung terigu atau biji gandum. Meski demikian, jika memungkinkan, masyarakat bisa mengurangi konsumsi makanan berbahan dasar terigu untuk mengantisipasi kenaikan harga.
"Tapi kalau sampai berhenti (konsumsi terigu) kan nggak mungkin juga, kasihan juga pedagangnya, kemungkinan besar ya penjualnya yang menyesuaikan ukurannya, kan bisa saja seperti itu," kata dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyebut pasokan gandum dari dua negara yang dilanda konflik, Rusia dan Ukraina, terhambat. Padahal dua negara tersebut merupakan produsen besar untuk gandum di pasar dunia.

Bahkan, kata Presiden, beberapa negara sudah mengalami kekurangan pangan dan kelaparan karena terhambatnya pasokan pangan akibat perang Ukraina dan Rusia.

"Ini hati-hati, yang suka makan roti, yang suka makan mie, bisa harganya naik. Karena apa? Ada perang di Ukraina. Kenapa perang di Ukraina mempengaruhi harga gandum? Karena produksi gandum itu 30-40 persen berada di negara itu, Ukraina, Rusia, Belarus, semua ada di situ," kata Presiden, Kamis (7/7).

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2022