Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, berpendapat hoaks bisa dengan mudah diterima sebagai "kebenaran" oleh masyarakat karena budaya kritis sudah tergerus.

Hal itu dia sampaikan terkait peristiwa penyerangan Markas Polsek Ciracas, Jakarta Timur, Sabtu (29/8), yang dipicu hoaks yang disebarkan salah satu oknum anggota TNI AD.

"Budaya kritis dalam masyarkat kita mulai tergerus, ini membuat mereka dengan mudah menerima atau hoaks sebagai suatu kebenaran, dan pada akhirnya hoaks yang diterima itu beberapa kali berujung pada tindakan kekerasan, seperti yang terjadi pada Sabtu dini hari kemarin di Polsek Ciracas,” ujar dia, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.

Rohaniwan Katolik yang memiliki keahlian dalam bidang ilmu komunikasi itu berpendapat perlunya membangun kembali budaya dan pendidikan kritis yang saat ini mulai tergerus.

“Pendidikan kritis melahirkan sikap dan cara berpikir yang tidak mudah dimanipulasi pihak-pihak yang menggunakan propaganda sebagai alat untuk mengaduk emosi publik lewat ujaran kebencian dan isu-isu tertentu yang biasanya terkait dengan SARA,” ujar dia.

Ia juga menegaskan betapa penting pendidikan literasi media dalam era digital, agar nantinya dalam merespon pemberitaan masyarakat tidak mudah terkecoh, emosional, dan terjebak pada solidaritas semu untuk melakukan tindakan-tindakan kekerasan serta negatif lainnya.

“kecerdasan masyarakat dalam menggunakan media sosial atau mencari informasi melalui media siber bisa dibangun lewat sebuah kesadaran kritis, melalui pendidikan literasi media juga membangun kesadaran kritis mereka, dengan itu mereka lebih mampu dalam memilih berita dan content yang memiliki sumber akurat,” ujar dia.

Selain itu, menurut dia, kesadaran berpikir kritis harus menjadi cara berpikir, bertindak dan berelasi sesama anak bangsa. Jika itu diterapkan, maka mereka tidak mudah tersulut emosi karena pemberitaan atau informasi yang belum jelas kebenarannya.

Benny juga mengatakan budaya kekerasan harus segera dihentikan. Hal itu, kata dia, bertentangan dengan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, karena siapa mencintai Tuhan, dia pastilah mencintai sesama manusia.

“Pendidikan kritis perlu diberikan kepada masyarakat, dan untuk pelaku penyebar hoaks yang berdampak pada tindak kekerasan, harus diproses hukum serta ditindak tegas untuk memutus tali kekerasan yang disebar luaskan dengan hoaks.” kata dia.

Baca juga: Kasad: 12 oknum TNI AD ditahan di Guntur terkait perusakan Mapolsek

Baca juga: Kasad: Prajurit TNI-AD terlibat penyerangan Polsek Ciracas disanksi pidana dan dipecat

Baca juga: Panglima TNI pastikan Prada MI tidak dikeroyok tapi kecelakaan tunggal

Pewarta: Fathur Rochman

Editor : Yuniardi Ferdinan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2020