Antarajabar.com - Sejumlah pelajar dari beberapa negara asing tertarik belajar agroekologi atau ilmu tentang pertanian dan alam di Pondok Pesantren Aththaariq, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
        
"Hampir tiap bulan kita kedatangan mahasiswa dari luar negeri," kata pemilik Pesantren Aththaariq, Ustad Ibang Lukman Nurdin kepada wartawan di Garut, Rabu.
        
Ia menuturkan Pesantren Aththaariq yang salah satunya bergerak dalam bidang keilmuan agroekologi dan sebagai pusat bank benih di Indonesia pernah didatangi oleh pelajar dari Thailand, Filipina, Myanmar dan Swedia.
        
Selain itu, lanjut dia, pernah dikunjungi perwakilan dari Kementerian Agricultur Prancis yang tertarik mempelajari agroekologi di Garut.
        
"Sebelumnya kita juga kedatangan tamu dari perwakilan Kementerian Agricultur dari Prancis yang belajar agroekologi," katanya.
        
Ibang mengatakan saat ini pelajar yang sedang belajar pertanian di pesantrenya selama tujuh hari yakni dari Thailand, Myanmar dan Filipina.
        
Materi yang dipelajari pelajar asing itu, kata dia, diantaranya Politik Ekologi, Ekologi menurut Islam, Islam dan Ekologi, Desain Permakultur, Pembenihan, Pembuatan Pupuk Organik dan Herbal.
        
"Materi pelajaran yang utama adalah mengenai agroekologi pengelolaan tanah yang berwawasan lingkungan," kata Ibang yang sekaligus sebagai pengajar bersama istrinya Nissa Sa¿adah Wargadipura.
        
Seorang pelajar asal Thailand, Aot (24) mengatakan banyak manfaat belajar tentang pertanian yang diajarkan di Pesantren Aththaariq yakni tentang wawasan lingkungan.
        
Aot rencananya akan menerapkan ilmu yang dipelajarinya di Pesantren Aththaariq ketika pulang ke negara asalnya tentang cara penanaman benih, membuat pupuk untuk tanaman dan pohon .
        
"Saya akan mempraktekan nanti di rumah," katanya.
   


Pewarta: Feri P
: Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026