Antarajawabarat.com, 11/6 - Pelatih tinju Indonesia Adi Swandana menyebutkan sukses meraih satu medali emas, satu perak dan dua perunggu pada SEA Games 2015 menyisakan perasaan 'gregetan' karena sedikitnya waktu persiapan dan uji tanding.

"Waktu uji tanding dan latihan di Kuba kami rasa terlalu singkat, bila uji tanding di luar negeri lebih banyak saya yakin hasilnya bisa lebih dari ini," kata Adi Swandana di Singapura, Kamis.

Ia menyebutkan, waktu latihan kurang dari satu bulan sehingga kurang maksimal untuk menempa kesiapan atlet dalam beberapa kejuaraan di luar negeri.

Padahal menurut Adi, petinju pesaing atlet Indonesia pada ajang SEA Games 2015 seperti dari Thailand, Vietnam dan Filipina selama setahun mengikuti sejumlah kejuaraan di luar negeri.

"Bertanding di kejuaraan gurem apapun di luar negeri itu meningkatkan kepercayaan diri yang cukup signifikan, dan itu sangat penting untuk cabang ini," katanya.

Dari hasil evaluasinya, kekalahan yang dialami atlet Indonesia terlihat tidak lepas dari kekurangan latih tanding. Sebelum berlatih di Kuba, tim praktis hanya turun di Piala Presiden.

Bahkan Kornelius Langu absen pada Piala Presiden 2015 karena masih berkabung setelah kakaknya meninggal dunia.

Tim Indonesia pada SEA Games 2015 ditangani bersama pelatih asal Kuba, Barbaro Jimenez Fernandez. Meski terkendala bahasa, namun 'bahasa tinju' bisa dipahami dan para atlet tetap enjoy mencerna materi latihan yang diberikan.

"Tak ada masalah dengan bahasa, karena kami sudah bisa mengerti instruksinya. Ia punya pengalaman dan strategi yang sebenarnya membantu saya di pertandingan," kata peraih medali emas SEA Games 2014 Kornelius Langu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Christina Jembay, petinju putri peraih medali perak kelas -54Kg itu mengaku butuh latihan yang lebih intensif dan jam terbang dalam beberapa kejuaraan di luar negeri.

"Kami sudah berusaha sebisa dan semampu kami untuk bisa meraih medali terbaik, dan hasilnya terlihat di hari terakhir pertandingan ini," kata Christina Jembay menambahkan.***4***
Syarif A


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026