"Debu batubara akibat kegiatan bongkar muat di pelabuhan Cirebon, cukup menganggu aktifitas warga sehingga kini mereka mulai terserang sesak nafas," kata Ras, salah seorang warga di Cirebon, Rabu.
Warga setempat minta pihak terkait mengurangi debu batubara, karena membahayakan sebelumnya pelabuhan Cirebon dijadikan tempat bongkar muat kayu, sehingga tidak menggangu masyarakat setempat, kini setelah meresahkan.
"Penyiraman debu harus lebih ditingkatkan, selain itu mobil angkutan batubara tertutup sehingga saat keluar pelabuhan bersih," katanya.
Dikatakannya, padahal warga setempat sudah berkali-kali mendatangi PT Pelindo II cabang Cirebon supaya bisa mengurangi polusi udara yang disebabkan debu, tapi hingga kini debu tersebut masih meresahkan jika melintas jalan sepanjang pelabuhan pasti kotor.
Haryanto sopir truk angkutan batubara di Pelabuhan Cirebon menuturkan, polusi debu harus diperhatikan karena pelaku usaha sudah memberikan uang debu yang dipungut pengelola pebuhan tersebut.
Ia menambahkan, debu batubara cukup mambahayakan, dirinya sudah 10 mengangkut batubara tersebut sering mengalami sakit dada dan saluran pernafasan.
Sementara itu Manajer Humas PT Pelabuhan Indonesia II/Indonesia Port Corporation (IPC) Cabang Cirebon Yosi, kepada wartawan di Cirebon, antisipasi untuk mengurangi debu batubara, pihaknya rutin melakakun penyiraman dikawasan pelabuhan Cirebon.***3***
Enjang S
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.