Ferry mengatakan, nilai ekspor Jabar hingga awal April 2014 mencapai 24 miliar dolar AS, angka itu lebih tinggi dari impor senilai 14 miliar dolar AS.
"Surplusnya signifikan, jauh di atas perdagangan luar negeri nasional," katanya.
Ia mengakui, ekspor tertinggi masih dari sektor industri tekstil dan produk tekstil, komponen suku cadang kendaraan, pesawat serta barang elektronik.
Selain itu sektor makanan dan minuman serta kerajinan, alas kaki dan lainnya juga meningkat. Ekspor sektor lain-lain cukup rentan penurunan karena sangat terpengaruh kondisi pasar di luar negeri.
"Ekspor Jabar masih dominan dari industri manufaktur dan komponen kendaraan dan pesawat. Ekspor sektor riil perlu ditingkatkan lagi, sektor itu cukup rentan terpengaruh kondisi perekonomian di luar negeri," katanya.
Sementara itu untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk Jabar di luar negeri, khususnya untuk sektor produk makanan pihaknya memfasilitasi sertifikasi produk serta lisensi produk halal.
"Khusus untuk ekspor makanan peluangnya cukup besar dan yang jelas daya saingnya perlu ditingkatkan temasuk program labelisasi produk halal," katanya.
Ia menyebutkan program sertifikasi produk halal sudah dilakukan produk di luar negeri. Ia mencontohkan di Malaysia sudah 90 persen produk di negeri itu bersertifikasi halal.
Hal sama terjadi di Thailand yang membangun laborarotium untuk sertifikasi produk halal dari negara itu juga membidik pasar produk halal, tentunya dengan bidikan pasar di kawasan ASEAN.
"Sertifikasi produk halal di Indonesia saat ini baru 20 persen. Namun tidak berarti selebihnya tidak halal, namun memang karena proses sertifikasinya belum diurus dan harus difasilitasi," katanya.
Menurut dia, pemerintah memfasilitasi sertifikasi produk halal namun dengan anggaran terbatas baru sebagian kecil yang terjaring program itu. Sertifikasi produk halal dilakukan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).***2***
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.