"Petani sekarang kesulitan mengangkut hasil tani karena akses jalan utama ini tergerus longsor tidak bisa dilewati mobil," kata Kodar (25) tokoh pemuda Kampung Patrol saat meninjau lokasi longsor, Kamis.
Ia menuturkan, longsoran tanah tebing terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut kemudian menggerus badan jalan sepanjang 15 meter dengan lebar empat meter dan ketinggian tebing sekitar 15 meter.
Bencana longsor yang menyisakan lebar badan jalan sekitar satu meter itu, kata dia hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor, sementara kendaraan roda empat tidak bisa.
"Mobil tidak bisa masuk Kampung Patrol akhirnya warga harus berjalan kaki mengangkut hasil taninya melewati jalan yang longsor untuk selanjutnya diangkut mobil," kata Kodar.
Petani setempat, Asep (45) mengatakan akibat jalan tergerus longsor itu para petani harus mengeluarkan biaya tambahan dan tenaga untuk membawa hasil taninya menuju kendaraan angkutan barang.
Jika menggunakan jasa angkutan sepeda motor ojek, kata dia, harus mengeluarkan uang sebesar Rp10 ribu untuk satu kali jalan.
"Sebagian besar warga Desa Sukakarya itu lahan pertaniannya di Kampung Patrol, sekarang untuk membawa hasil taninya harus diangkut atau pakai motor melewati longsor," kata Asep.
Sementara itu, masyarakat Desa Sukakarya sebagian besar sebagai petani sayuran seperti cabai, tomat, jagong, pepaya, dan mentimun yang biasa dijual ke wilayah pasar induk Garut dan sejumlah pasar di Bandung.
Para petani berharap pemerintah segera memperbaiki jalan yang tergerus longsor tersebut karena khawatir terus meluas dan jalan terputus total.
"Kami harap pemerintah segera memperbaiki jalan ini karena takut terjadi longsor susulan dan memutuskan jalan tersebut," kata Asep.***3***
Feri P
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.