"Kita sedang memeriksa tentang normalisasi DAS Citarum. Mengapa, karena ini sesuatu yang sangat penting dan ada kaitannya dengan energi kita," kata Anggota BPK Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Hidup Ali Masykur Musa, di Kampus Uninus Bandung, Senin.
Ia menuturkan, DAS Citarum itu menjadi sumber energi bagi pembangkit listrik yang ada di Jawa Barat seperti untuk PLTA Waduk Cirata, Saguling dan Jatiluhur dan hingga dua tahun ini pemerintah telah mengucurkan Rp1,3 triliun untuk program normalisasi DAS Citarum ini.
Menurut dia, saat ini tingkat sedimentasi yang ada di DAS Citarum sudah cukup mengkhawatirkan yakni mencapai 7,5 ton setiap tahunnya sehingga wajar jika di sana cepat terjadi pendangkalan.
Dijelaskannya, pemeriksaan terhadap program normalisasi DAS Citarum merupakan salah satu jenis pemeriksaan kinerja yang biasa dilakukan oleh BPK.
"Untuk pemeriksaan DAS Citarum ini, bukan pemeriksaan keuangan yang menjadi bagian setiap kementerian atau instansi pemerintah lainnya, yang di dalam akan menjadi opini dari BPK," kata dia.
Namun, kata dia, walaupun jenis pemeriksaan yang dilakukan untuk normalisasi DAS Citarum tersebut bukan pemeriksaan keuangan maka bukan berarti BPK tidak bisa menemukan adanya unsur kerugian negara dari program tersebut.
"Jadi walaupun pemeriksaan kinerja, ini bukan berarti kita tidak bisa menemukan kerugian atau penyalahgunaan keuangan negara," kata dia.
Saat ditanyakan apakah hingga saat ini ada temuan oleh BPK dalam pemeriksaan program DAS Citarum, Ali enggan menuturkan hal tersebut.
"Untuk temuan, kita belum bisa memberikan atau memberitahukannya karena sedang dilakukan pemeriksaan. Tahun anggaran ini kan tinggal sebulan lagi, tapi tahun depan juga dilakukan," kata dia.
Pihaknya menambahkan, selain melakukan pemeriksaan, BPK RI juga telah mengunjungi langsung lokasi DAS Citarum.
"Hari ini BBWSC masih menyelesaikan paket 5 di DAS Citarum. Paket 5 rata-rata 7 hingga 8 km. Kami tadi melihat tentang teraseringnya, bagaimana sedimentasinya kemudian sudah sejauh mana kedalaman penggerukannya," kata dia.***1***
Ajat S
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.