"Lumayan sekarang naik Rp10 ribu, kalau saat musim hujan harga jual pasir Rp100 ribu per truknya," kata salah seorang penambang pasir tradisional Ijah (40) di Sungai Ciwulan, Desa Sukakerta, Kecamatan Jatiwaras, Tasikmalaya, Rabu.
Pengaruh naiknya harga pasir, kata Ijah karena beberapa daerah yang dijadikan lokasi penambangan pasir di aliran sungai mengalami penyusutan volume pasir saat musim kemarau.
Ia mengatakan seperti kondisi pasir di aliran Sungai Ciwulan hanya mampu mengumpulkan pasir sebanyak tujuh kubik atau kurang lebih dua truk per hari mulai pukul 07.00 sampai pukul 13.00 WIB.
"Sekarang dari jam tujuh sampai jam satu siang, pasir di sungai sudah sedikit, berbeda dengan musim hujan bisa lebih dari tujuh kubik, tergantung kuatnya penambang disini," katanya.
Sementara itu, pasir di aliran Sungai Ciwulan tersebut merupakan muntahan pasir dari kawasan Gunung Galunggung yang terbawa arus sungai.
Aktivitas penambangan pasir di aliran Sungai Ciwulan itu dilakukan oleh lima orang yang ditambang secara tradisional menggunakan alat singkup.
Para penambang mengambil pasir di dasar dan pinggiran aliran sungai, kemudian diangkut menggunakan keranjang bambu menuju lokasi penampungan sehingga mudah diangkut menggunakan truk.
Penambangan pasir tradisional itu sudah berlangsung lebih dari 20 tahun. Biasa dijual langsung kepada masyarakat atau penampung untuk dijual ke wilayah Kota dan Kabupaten Tasikmalaya.***2***
Feri P
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.