"Kami dari Forum Penyelamat Jabar (FPJ) yang terdiri dari Baresan Olot Tatar Sunda, DPKLTS, Walhi Jabar, HNSI, Forum DAS Citarum, dan LBH Bandung, menyatakan telah mengambil langkah perlawanan politis dan hukum atas eksploitasi pasir besi di Jabar Selatan," kata Duta Sawala Baresan Olot Tatar Sunda Eka Santosa, di Kota Bandung, Rabu.
Pihaknya menilai, selama ini para pejabat pemerintahan dan aparat hukum yang membiarkan, melindungi, serta mengizinkan pertambangan pasir besi terus berlangsung di pesisir pantai selatan Jawa Barat.
Menurut dia, aktivitas penambang pasir besi juga telah mengurangi batas teritorial pantai seperti di beberapa kawasan yang ada di pesisir pantai selatan Jabar, yakni mundurnya batas pantai bisa mencapai 20 kilometer.
Dikatakannya, keberadaan tambang pasir besi itu juga menimbulkan konflik horizontal antar warga. Secara pemasukan daerah pun tidak sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan.
"Hak warga untuk memperoleh lingkungan yang bagus dan menikmati ruang terbuka publik seperti pantai, terhalang oleh aktifitas pertambangan. Hak azasi warga direnggut," kata Eka.
Berdasarkan hasil penelusuran yang dilakukan oleh pihaknya, aktivitas pertambangan pasir besi di sepanjang pesisir pantai selatan Jabar yang masih beroprasi ialah di Desa Tegalbuleud Kab. Sukabumi, Desa Ciheras Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya.
"Kemudian di Desa Sindangkerta Kecamatan Cikalong Kabupaten Tasikmalaya, Desa Ciandum Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, Desa Cidamar Kecamatan Cidaun Kabupaten Tasikmalaya dan lain-lain," katanya.
Malah di Kabupaten Tasikmalaya, lanjut dia, ada perusahaan daerahnya ikut pula melakukan eksploitasi pasirbesi.
"Di Tasik juga, ada tambang pasir besi yang posko pintu gerbangnya dijaga. Kami sempat bersitegang di sana karena dilarang masuk," kata dia.
Ia menambahkan, aktivitas penambangan pasir besi bahkan telah mempersulit akses warga untuk memperoleh layanan publik seperti kesehatan.
"Ada Puskesmas yang sekeliling lahannya telah digali untuk penggalian pasir besi ini. Akibatnya warga kesulitan menuju Puskesmas karena galian sekeliling Puskesmas mencapai kedalaman hingga dua meter lebih," katanya.***1***
Ajat S
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.