"Sebenarnya di daerah itu (Djunjunan) pernah banjir setinggi satu meteran dan itu disebabkan bukan hanya drainase belum memadai tetapi tingkat sedimentasi di sekitar jalan itu tinggi," kata Iming kepada wartawan di Bandung, Kamis.
Menurutnya, antisipasi untuk banjir itu pun sebenarnya telah dilakukan, yakni hanya sebatas antisipasi sementara berupa pengerukan sedimentasi sedangkan untuk pelebaran drainase ia akui akan dilakukan tahun 2012.
"Dulu juga karena penyumbatan banyak sampah, sehingga sedimentasi menjadi tinggi, tetapi kedepan (2012) kita akan melakukan pelebaran drainase untuk besaran dana yang diperlukan masih dalam perhitungan" ujarnya.
Iming mengatakan, perbaikan itu dilakukan pada saluran di pinggir Hotel Topas kemudian dilanjut ke Sungai Cianting atau hulu Sungai Citepus.
"Jadi, itu bisa diperbaiki di 2012 karena memang dimensi saluran air tersebut belum memadai, kemudian kita juga belum selesai memperbaiki crosing sungai tersebut secara menyeluruh," kata Iming.
Ketika ditanya apakah masalah dana, Iming mengatakan, meskipun kini ada dananya tidak mungkin perbaikan drainase secara menyeluruh dilakukan di 2011 karena perlu lelang.
"Kalaupun kita uang ada tetapi kan, harus lelang dulu jadi Insya Allah 2012 kita bisa mulai perbaikan secara total," lanjut Iming.
Sedangkan antisipasi sementara agar tidak lagi banjir di Jalan Djunjunan, ia mengatakan, pihaknya telah turun ke lapangan pada Kamis (15/12) pagi tadi dan menurutnya penanganan sementara tersebut ialah dengan melakukan pengerukan sampah atau sedimentasi.
"Menangani banjir yang terjadi kemarin kita lakukan tanggap darurat dengan pengerukan sedimentasi dan sampah, tadipun kita lihat ada drum besar di saluran air tersebut," ujar Iming.
Ia mengatakan, perbaikan sementara tersebut akan diselesaikan secepatnya.
"Melihat cuaca tinggi, kami sadari sedimentasi dan volume air pasti besar tetapi kami upayakan pengerukan itu secepatnya," katanya.***4***
Pauzi
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.