"Bulog berharap bisa menyerap seluruh hasil panen program GP3K, bila itu bisa direalisasikan maka penyerapan bisa maksimal dan stok tetap aman," kata Kepala Bulog Divre Jawa Barat, Asep Karyana di Bandung, Senin.
Menurut Asep, penugasan pemerintah terhadap sejumlah BUMN yakni Bulog, Perhutani, PT Sanghyang Sri dan Perum Pertani itu sudah digulirkan dalam bentuk gerakan membantu peningkatan produktifitas pertanian.
Termasuk di wilayah Jawa Barat, program tersebut luasannya mencapai lebih dari 60 ribu hektare. Kawasan yang dilakukan pengembangan produktivitas itu memiliki potensi cukup besar untuk meningkatkan produksinya.
Produktivitas hasil pertanian khususnya padi di wilayah Jabar saat ini rata-rata 5,1 ton per hektare. Melalui program GP3K digenjot mengejar target produktifitas 7 ton per hektare.
"Bila hasil panen di lahan program GP3K saja bisa diserap oleh Bulog, kan bisa membantu stok. Namun sejauh ini kami belum melakukan pembicaraan," kata Usep Karyana.
Sementara itu penyerapan beras oleh Bulog Jabar pada 2011 ini di bawah target. Tercatat realisasi penyerapan hanya mencapai 55 persen dari target penyerapan 450 ribu ton.
Salah satu kendalanya adalah harga beras di tingkat petani jauh lebih tinggi dibanding harga pembelian Bulog. Meski Bulog melalui keputusan Dirut Perum Bulog telah menaikan harga pembelian sebanyak tiga kali pada 2011 dari harga HPP Rp5.060 per kilogram GKG menjadi Rp6.000 per kilogram GKG.
"Penyerapan praktis tidak bisa dilakukan lagi, terlebih luasan panen gadu beberapa waktu lalu tidak signifikan. Namun kendalanya harga di atas harga pembelian Bulog," katanya.
Meski demikian, Bulog Jabar menyatakan stok di tujuh gudang yang ada di Jawa Barat cukup aman hingga pertengahan Januari 2012.
"Untuk stok kami mengajukan ke pemerintah untuk mendapatkan pasokan 120 ribu ton, dengan prioritas pasokan dari daerah lain. Bila tidak memungkinkan akan menggunakan stok impor," kata Usep.
Sementara itu untuk stabilisasi harga, Bulog Jabar menyiapkan stok 10.000 ton untuk Operasi Pasar (OP). Teknisnya akan digebar ke pasar-pasar stradisional disamping melakukan penjualan langsung menggunakan truk operasional.
"Kota Bandung dan Bogor menjadi lokasi OP, daerah itu cukup rawan pergerakan harga beras," kata Kepala Bulog Divre Jabar itu menambahkan.***5***
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.