ANTARAJAWABARAT.com,7/10 - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyayangkan masih adanya aktivitas kunjungan wisatawan ke lokasi dan kawah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada saat kondisi aktivitas gunung api itu cukup tinggi dan berbahaya.

"PVMBG telah mengeluarkan rekomendasi untuk tidak mendekati kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius dua kilometer, namun kenyataanya masih ada wisatawan bahkan turis asing mendarat di pulau Gunung Anak Krakatau itu, jelas itu harus dihentikan," kata Kepala Seksi Penelitian Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Badan Geologi, Agus Budiarto di Bandung, Jumat.

Ia menyayangkan masih adanya wisatawan bahkan turis asing yang nekad mendekat bahkan mendaki ke kawah Gunung Anak Krakatau. Salah satu buktinya adanya foto yang menggunduh ke jejaring sosial aktivitas kawag gunung api itu.

"Aktivitas gunung Anak Krakatau cukup tinggi, letusan ekplisifnya masih terus terjadi dengan mengeluarkan material batuan yang berbahaya bagi manusia," kata Agus.

Untuk itu, ia mengimbau para pemilik perahu boat atau kapal kecil untuk pesiar di wilayah Selat Sunda untuk tidak membawa turis mendekat ke gunung api itu karena bisa membahayakan keselamatan jiwa.

Agus menyebutkan, PVMBG mengaku tidak bisa melakukan pencegahan karena banyak jalur yang bisa ditempuh untuk menuju ke gunung di tengah lautan Selat Sunda itu.

"Kemungkinan besar mereka masuk kawasan gunung itu dari Pantai Carita, kalau dari Lampung tidak memungkinkan. Kami berharap kerjasamanya untuk tidak membawa wisatawan pesiar ke sana," kata Agus.

Imbauan sama juga berlaku untuk para nelayan di kawasan itu untuk tidak singgah di pulau Gunung Anak Krakatau itu. Dataran di sana tidak ada penduduk, namun selama ini sering digunakan oleh nelayan untuk beristirahat saat menjala ikan.

Sementara itu perkembangan terakhit aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas cukup tinggi dengan tingkat kegempaan dalam enam jam mencapai 1.519 kali gempa vulkanik dangkal.

"Angka kegempaan di sana masih sangat signifikan, mencapai 1.519 kali dengan skala di bawah 3SR, karakter letusannyan juga berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dimana kegempaan lebih dominan. Namun dipastikan tidak berdampak menimbulkan tsunami," kata Agus.

Akibat letusan dan lontaran material dari gunung api itu, beberapa kali peralatan seismic di gunung itu mengalami kerusakan. Sedangkan Minggu (10/10), tim PVMBG akan menambah perangkat sonicmeter untuk mendeteksi aktivitas dentuman dari letusan gunung api itu.

"Gunung api itu masih terus diawasi dari Posko PVMBG, tim kami masih berada di sana, dan Minggu besok akan memasang sonicmeter," kata Kepala Seksi Penelitian Gunung Api wilayah Barat itu menambahkan.***4***

Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026