ANTARAJAWABARAT.com, 3/10 - Gelaran Bambu Nusantara perlu dukungan semua pihak karena ajang itu merupakan wadah bagi para musisi yang mengusung tema tradisional untuk unjuk gigi.

Seniman yang juga seorang gitaris Balawan di sela-sela penampilannya dalam 'World Music Festval' Bambu Nusantara ke-5 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Minggu, menyatakan kebanyakan masyarakat masih menganggap bahwa alat musik gamelan itu masih primitif dan cenderung terbelakang.

Dalam kesempatan itu, Balawan yang tampil berkolaborasi dengan kelompok Gamelan Maestro Project yang didatangkan langsung dari Bali memainkan sebanyak lima buah lagu.

Gitaris yang terkenal oleh kepiawaiannya memadukan musik modern dengan warna musik etnik ini tampil di panggung utama Bambu Nusantara malam ini dari pukul 18.30 hingga 19.30 WIB.

Menurut Bawalan, selama ini kebanyakan masyarakat masih menganggap bahwa alat musik gamelan itu masih primitif dan cenderung terbelakang.

"Kami mengangkat gamelan dan memanfaatkannya dengan baik," katanya.

Penampilannya malam ini bersama Gamelan Maestro Projet merupakan suatu perkenalan para personil secara individual pada masyarakat karena para penabuh gamelan ini seluruhnya datang dari sanggar.

"Rencananya setelah ini kami akan membuat rekaman bersama dengan Gamelan Maestro Project. Di sini kita bisa buktikan bahwa para pemain musik tradisional bisa sejajar dengan para pemain musik modern," katanya.

Lima lagu yang dibawakan malam ii di antaranya Funkbe, Belajar Menari (Learning to Dance), What Left in Bali, Kotekan, dan Jayaprana yang diangkat dari cerita rakyat.

Dari barisan penonton tampak sejumlah warga asing yang sengaja datang untuk menyaksikan penampilan Balawan. Hedrik misalnya, warga asal Belanda ini mengaku kagum dengan penampilan Balawan.

"Saya sangat menikmati musiknya. Paduan antara etnik dan modern. Saya tahu Balawan, dia memang gitaris luar biasa," katanya.

Selain Balawan, dalam hari kedua gelaran Bambu Nusantara ini sebelumnya juga tampil musisi Dwiki Dharmawan yang berkolaborasi dengan Ozeng Percussion dari STSI Bandung.

Sebelum acara puncak malam ini ada pula penampilan dari musisi independen asal Bandung yang saat ini sedang banyak diminati anak muda, yaitu Sarasvati.

"Jika biasanya kami main full elektro, khusus malam ini kami berkolaborasi dengan teman-teman dari angklung SMA Pasundan 2 Bandung," kata Risa, sang vokalis.

Bambu Nusantara ke-5 yang diselenggarakan selama dua hari, dari Sabtu (1/10) hingga Minggu (2/10) ini merupakan acara rutin tahunan yang setiap gelarannya mengangkat tema tentang bambu sebagai media instrumen musik dan seni lainnya.

-achie-


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026