"Dampak perdagangan bebas tahun per tahun dipastikan kian menguat dan berpengaruh kian signifikan bagi produk dalam negeri, terutama produk UMKM," kata Direktur Eksekutif Pengembangan Inovasi dan Pembangunan Bamboo Institute, Herlas Juniar di Bandung, Senin.
Selain perlu meningkatkan daya saing produk, Herlas berpendapat perlunya dukungan kebijakan pemerintah yang lebih berpihak pada para pelaku usaha dalam negeri.
Di lain pihak, para pelaku usaha terutama UMKM wajib melakukan evaluasi pasar sepanjang 2010 untuk menetapkan strategi pemasaran pada 2011.
Herlas yang juga pemerhati UMKM dan perdagangan itu berpendapat, meski pada tahun pertama pemberlakuan perdagangan bebas ASEAN - China belum memberikan dampak yang begitu signifikan terhadap sejumlah sektor unggulan, namun tidak berarti kondisi itu akan terus stagnan.
"Jangan terlena dengan dampak yang belum begitu terasa di tahun pertama, buktinya untuk beberapa komoditas seperti tekstil, barang elektronik, mainan anak-anak dan beberapa sektor lainnya begitu deras bahkan mendominasi di pasar dalam negeri," kata Herlas.
Ia berpendapat, pada 2011 dipastikan terjadi peningkatan volume barang impor dari negeri Tirai Bambu itu dengan lebih banyak lagi jenis dan komoditas yang masuk dan mengancam produk lokal.
"China masih memiliki banyak komoditas yang siap menyerbu pasar dunia, terutama ke Indonesia yang memiliki pasar cukup besar. Pelaku usaha perlu mengantisipasi, terutama dalam memperkuat daya saing di pasar dalam negeri agar tidak tergeser produk luar," katanya.
Meski demikian, pria jebolan Unpad yang juga magister ITB itu tidak menganggap 2011 sebagai tahun ancaman bagi para pelaku usaha mikro dan menengah.
Menurut Herlas, pemerintah masih memiliki otoritas untuk mendukung para pelaku UMKM melalui kebijakan-kebijakan di sektor riil.
"Tahun 2011 tidak sepenuhnya benar bila dianggap sebagai ancaman, karena dari perdagangan ini justeru ada peluang. Hal itu bisa terjadi bila pemerintah tidak memberikan perhatian dan keberpihakan dalam kebijakan-kebijakannya," kata Herlas.
Ia menyebutkan, sejumlah pelaku UMKM di Indonesia belum kuat bergulat di pasar bebas. Hal tersebut perlu segera diatasi dengan memperkuat kelembagaan dan komunitas masing-masing dalam meningkatkan daya saing dan perkuatan pasar dalam negeri.
Kondisi tersebut merupakan salah satu kelemahan yang perlu segera dibenahi dan pemasaran produk saat ini tidak bisa dilakukan secara sektoral atau per individu melainkan perlu ada penguatan komunitas pelaku UMKM agar daya saing produk dalam negeri makin meningkat.
"Pengembangan dan inovasi produk tidak bisa terhindarkan lagi, pemanfaatan teknologi informasi mutlak bagi mereka dan komunikasi inovasi perlu dimaksimalkan disamping penguatan jaringan promosi dan pasar yang lebih dari tahun-tahun sebelumnya," kata Herlas.
Ia menyebutkan, kecenderungan pasar yang meminati produk impor khususnya produk China yang berharga murah, perlu menjadi bahan evaluasi dan survei pasar untuk mengetahui karakter pasar yang bisa ditembus.
"Terlepas dari kualitas, pasar bisa menentukan sendiri pilihannya. Kemampuan promosi dan menyiasati karakter pasar seperti itu mutlak, pakar komunikasi perlu dilibatkan. Strategi komunikasi pemasaran untuk UMKM perlu dipoles lagi," katanya.
Di lain pihak, kata Herlas, perlu adanya jaringan distribusi dan pemasaran produk yang lebih efektif bagi produk-produk UMKM. Saat ini pemasaran produk UMKM terkadang harus melalui broker atau perantara karena keterbatasan jaringan.
syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.