Bandung,26/9 (ANTARA) - Menjelang pelaksanaan Musdalub Golkar Jabar, terkait keputusan SK Nomor 84 yang memutuskan mencopot Ketua Golkar Jabar Irianto Ms Syafiuddin dan Sekretaris Dedi Mulyadi, beredar surat kaleng yang menyudutkan sejumlah pihak.

Surat kaleng yang berisi dugaan Politik Uang dalam pemilihan Ketua DPD Golkar Kabupaten Bekasi tersebut, beredar di kalangan pengurus anggota Golkar Jabar, Kosgoro, AMS serta beberapa kader golkar lainnya seperti di Fraksi Golkar DPRD Jabar.

Dalam surat dengan jumlah tiga lembar tersebut, Minggu, disebutkan Neneng Hasanah telah menyuap pengurus Golkar Jabar agar dilantik menjadi Ketua DPD II Golkar Kabupaten Bekasi.

Disebutkan dalam surat tersebut, Neneng memberikan uang kepada sepuluh orang pengurus Golkar Jabar serta Ormas pendukung Golkar.

Dalam isinya surat kaleng tersebut membahas adanya doktrin dari Agung Laksono sebagai Ketua Umum Kosgoro 57, untuk menguasai Partai Golkar secara umum, dimana Jabar sebagai Barometer Indonesia secara Nasional.

Bahkan dalam isinya, definisi SK nomor 84 tersebut, dibuat secara sengaja untuk mengacaukan suasana kondusif Golkar Jabar dengan tujuan chaos, dan selanjutnya Kosgoro mencuri adegan dalam peranan surat kaleng tersebut dengan mengambil posisi Ketua Golkar Jabar dan Sekretarinya.

Budi Asmara, yang disebutkan dalam isi surat kaleng tersebut menerima aliran dana dari Neneng, saat ditemui Minggu sore mengatakan bahwa semua itu adalah fitnah dan menyesatkan, sehingga secara tegas dirinya membantah karena dituduh menerima apalagi meminta uang kepada Neneng.

" Saya memahami ini dalam permainan politik, namun jika permainan politik ini dilakukan secara tidak sehat akan semakin memecah belah belah partai Golkar, khususnya di Jawa Barat," ujar Budi saat ditemui di Hotel Horison Minggu sore.

Budi sendiri menerima surat kaleng tersebut, pada hari Rabu (22/9) melalui pos, dimana surat tersebut dibungkus map warna coklat serta tidak ada nama pengirimnya.

" Selain saya memang ada juga kawan dari AMS yang menerima aliran dana yang dimaksudkan dalam surat kaleng tersebut," ujar Budi.

Sementara itu Neneng Hasanah saat ditemui di salah satu hotel di Bandung Minggu malam mengatakan, pihaknya menyatakan tidak memberi uang sepeser pun kepada sepuluh orang yang dimaksud dalam surat kaleng tersebut.

"Saya pastikan tidak ada Politik uang, kenapa harus ada surat kaleng tersebut serta apa motivnya, itu fitnah," ujarnya.

Bahkan keduanya baik Budi maupun Neneng, mengaku tidak akan memperpanjang masalah surat kaleng ini, karena isinya tidak benar sama sekali.

"Jika kami sikapi malah menjadi guyonan, bahkan kami tidak menerima uang itu sepeser pun," ucap Budi.

Bahkan Budi Asmara bertekad secara bulat, bahwa dirinya mendukung Yance karena dirinya yakin jika Yance dizolimi.

"Saya heran kenapa pihak DPP tidak memberikan kesempatan sedikitpun kepada Yance, padahal semua mekanisme sejak sebelum dikeluarkannya SK nomor 84, sudah dilalui secara prosedur oleh Yance, mulai minta maaf hingga rapat internal," ujarnya.

Budi menambahkan, di era kepemimpinan Abu Rizal Bakrie selama 10 bulan terakhir, Yance mampu membuktikan jika raihan suara Golkar di daerahnya yakni di Indramayu saat Pilkada kemarin mencapai 63,8 persen suara.

" Ini membuktikan jika Yance berhasil membangun Golkar, dan terjadi pada masa kepemimpinan Abu Rizal saat ini," tegas Budi.***1***

(U.pso-214/C/Y003/Y008) 26-09-2010 21:11:55


Editor :

COPYRIGHT © ANTARA 2026