Herman(48)salah seorang pengrajin bulu entog asal Desa Tanjungpura Karang Ampel,kepada wartawan, di Indramayu, Minggu, mengatakan, bulu entog yang merupakan bahan dasar shuttle cock dipasok ke pusat pembuatannya di Desa Lawatan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.
Dikatakannya,kiriman bulu entog didatangkan dari berbagai daerah jika hanya mengandalkan wilayah Jawa barat pasti kekurangan bahan shuttle cock tersebut,saat ini kiriman rutin dari Palembang, Jambi dan Kalimantan.
"Pengolahan bulu entog cukup sederhana,pertama bulu entog dipisahkan dulu sesuai kualitasnya,lalu dicuci dengan deterjen supaya warna lebih putih,setelah itu dijemur hingga kering dan mengembang," katanya.
"Setelah proses pengolahan selesai bulu entog tersebut diikat dengan karet gelang,satu ikat berjumlah seratus bulu entog,lalu dikemas menggunakan karung plastik dan siap untuk dikirim,"katanya.
Dia menambahkan,peluang usaha yang sudah dijalani kurang dari 20 tahun ini cukup menjanjikan,keuntungan masih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, setiap bulan pesanan bulu entog terus meningkat.
"Permintaan bulu entog semakin meningkat namun proses pengolahan sedikit terhambat akibat hujan yang berkepanjangan,saat ini pengolahan masih mengandalkan panas matahari,"ujarnya.
Menurut dia,proses pengolahan bulu entog jika musim kemarau mudah kering,selain itu kualitas bulu entog terlihat putih mengkilap karena sekali menjemur langsung kering.Namun musim hujan bulu
entog bisa dua hari kering sehingga perlu ketelitian memilih kembali bulu yang belum kerig.
Sementara itu Kasman(45) pengrajin lain menuturkan,semakin menjamurnya gedung badminton,permintaan shuttle cock terus meningkat sehingga pasokan bulu entog terus kekurangan barang.
Dikatakannya,saat ini kiriman bulu entog masih ke pusat pengrajin shuttle cock di Desa Lawatan kecamatan Dukuhturi Tegal,Jawa Tengah.Setelah menjadi shuttle cock kembali digunakan warga Indramayu
padahal dulu sempat memproduksi namun kalah bersaing dengan Tegal.
Menurut dia, usaha pembuatan shuttle cock berpeluang besar mensejahterakan warga pesisir pantai Indramayu,selain bahan baku ada di kota mangga pemasaran barang tersebut masih terbuka lebar.
Dia menambahkan,seperti di Tegal dari total 1.000 rumah penduduk di Desa Lawatan, 80 persen masyarakat pengrajin shuttle cock,dalam satu hari ratusan shuttle cock dihasilkan dan dipasarkan keseluruh Indonesia.***2***
(T.pso-061/B/M019/M019) 08-08-2010 09:23:51
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.