"Jika dilihat dari bahan baku, justru kita tidak pernah kesulitan bahan baku, persoalannya hanya harus terus didorong untuk menghasilkan produk yang lebih beragam lagi," tutur Kepala Dinas KUMKM Jabar, Wawan Hernawan, Selasa.
Diungkapkan Wawan, kualitas kulit di Jabar atau sekup Indonesia pada umumnya masih kalah bersaing dengan bahan baku kulit asal luar, jika dilihat dari hasil penyamakannya.
"Banyak UKM kulit seperti sepatu di Jabar yang masih mengandalkan kulit impor karena kualitas penyamakan kulitnya lebih halus dan layak, makanya dari hal tersebut kita harus berupaya untuk meningkatkan kualitasnya mulai dari bahan baku," tambah Wawan.
Menurutnya, pasar industri kulit di Jabar, hanya memerlukan kuantitas yang lebih banyak, sehingga masing-masing daerah bisa dibangun citranya sebagai sentra produk kulit yang khas dan berkualitas.
"Selama ini Jabar sudah berhasil mencitrakan Cibaduyut sebagai pusatnya sepatu kulit, Tajur Bogor sebagai sentra Tas kulit, nah saat ini tinggal didukung daerah lainnya dengan produk kulit yang lebih inovatif," sambungnya.
Lebih lanjut dikatakannya, tren budaya masyarakat saat ini tidak hanya menjadikan kulit sebagai potensi ekonomi komoditas masyarakat, namun juga sebagai produk fesyen, aksesori kerajinan, kuliner hingga kecantikan.
Untuk menggali kekayaan potensi ekonomi dari kulit, Dinas KUMKM Jabar juga akan menggelar Gelar Kriya Kulit Jawa Barat 2010, yang akan diselenggarakan pada 7-8 Agustus 2010 di pelataran parkir utara Gedung Sate Bandung.
Dalam gelar kriya tersebut, akan ditampilkan berbagai stan produk dari pengusaha dan pengrajin kriya kulit skala mikro kecil dan menengah, dari Bandung, Cimahi, Cirebon, Garut, Subang, Tasikmalaya, Bekasi serta anggota koperasi lainnya memiliki produk unggulan kulit.***2***
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.