Cimahi, 26/7 (ANTARA) - Sebanyak 38 bayi di Kota Cimahi mengalami gizi buruk dan 225 diantaranya mengalami kurang gizi, sehingga Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi menggalakkan pola asuh untuk mencegah hal itu.

"Kasus tersebut kebanyakan terjadi karena kesalahan pola asuh. Pasalnya di wilayah perkotaan orang tua cenderung bekerja, sehingga pola asuh menjadi kurang baik," kata Staf Gizi pada Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Cimahi Dian Sri Redjeki di Cimahi, Senin.

Penanganan masalah gizi buruk masih kurang efektif jika hanya melalui pemberian makanan tambahan (PMT) dan penyuluhan. Selain dua upaya tadi juga diupayakan perubahan perilaku atau pola asuh. Masalahnya, tidak mudah mengubah perilaku seseorang itu karena sudah menjadi kebiasaan.

Dijelaskannya, gizi kurang atau gizi buruk tak hanya disebabkan oleh kurang asupan makanan. Ada empat aspek yang memengaruhi gizi buruk yakni aspek pemberian makanan, kebersihan, perawatan anak, pola asuh, dan perawatan kesehatan. Dian mengatakan, program positive deviance atau memberikan pengaruh positif yang digalakkan Dinas Kesehatan Kota Cimahi diharapkan bisa mengubah kesalahan pola asuh masyarakat.

"Lewat pola asuh pula kita akan sampaikan pda masyrakat bagaimana memberikan asupan gizi yang tepat untuk usia balita. Selain itu, juga cara pemberian dan pengolahan makanan," ujarnya. Selain itu, aspek kebersihan pun perlu dilakukan seperti potong kuku, sikat gigi, atau cuci tangan bersama
Dipaparkannya, masih banyak masyarakat yang tidak mengerti tentang makanan sehat untuk balita. Hal tersebut berdampak pada kurangnya asupan makanan bergizi. Belum lagi kesadaran masyarakat untuk berprilaku hidup bersih dan sehat pun masih kurang.

Hal yang penting untuk mengubah kondisi gizi anak dalam suatu keluarga,sambungnya, bisa diawali dengan merubah perilaku menjadi lebih baik. Dalam beberapa hasil penelitian, sering kali ditemukan ada keluarga miskin yang ternyata anaknya memiliki gizi yang bagus. Padahal, di sisi lain, ada keluarga miskin dengan daya beli sama, anaknya mengalami kurang gizi.

"Kalau melihat kondisi mereka kan seperti hal yang tidak mungkin. Kenapa bisa seperti itu? Itulah yang harus diadopsi oleh keluarga yang asupan gizi-nya masih kurang. Bagaimana orang dengan sumber daya terbatas, tetapi anaknya bisa sehat. Itulah yang disebut positive deviance," tandasnya.

Lebih lanjut Dian mengatakan, sebenarnya untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya telah menganjurkan pemberian makanan tambahan (PMT). Sayangnya perilaku masyarakat miskin cenderung ingin diberi saja. Melalui kegiatan positif deviance ini, masyarakat diajarkan untuk bagaimana mengatasi masalah tersebut, bukan menungggu untuk diatasi.***3***


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026