Bogor, 16/6 (ANTARA) - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Rabu, kelemahan riset menjadi hambatan Indonesia dalam upaya peningkatan daya saing di pasar internasional.

Jusuf Kalla (JK) mengaku kecewa saat mengunjungi pusat-pusat penelitian di beberapa daerah di Indonesia.

"Ada pusat penelitian yang dari buku log yang saya lihat terakhir kali melakukan penelitian di laboratoriumnya enam bulan lalu," kata Kalla saat menjadi pembicara dalam seminar dan lokakarya nasional tentang daya saing internasional Indonesia di Bogor, Jawa Barat.

Seminar dua hari tersebut digelar oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi Manajemen (FEM) ke-9.

"Pusat penelitian jangan hanya jadi museum. Bagaimana daya saing kita bisa meningkat kalau kondisinya seperti ini," katanya.

Ia menegaskan, tidak ada alasan untuk mengatakan pertanian di negeri ini sulit maju karena Indonesia memiliki sumberdaya alam yang melimpah.

"Namun subsidi yang diberikan baik oleh Pemerintah berupa subsidi pupuk, maupun subsidi dari Tuhan berupa sumberdaya alam yang melimpah, tidak diimbangi dengan ilmu yang memadai," katanya.

Menurut Kalla, daya saing bisa diukur dari tiga hal yaitu mencari yang lebih baik, lebih murah dan lebih cepat.

Jika ingin maju di bidang pertanian, produsen harus memenuhi tiga syarat tersebut.

Selain itu, Kalla juga menyebutkan perlunya fokus pada bisnis pertanian dan produksi hijau yang saat ini menjadi barang mahal di dunia.

Terkait kurangnya keterkaitan antara hasil riset dan pengguna, ia mengatakan, sebaiknya pengusaha tidak menunggu hingga organisasi rapi. "Jangan hanya salahkan sistem, kesalahan bukan hanya ada di birokrasi. Kalau birokrasi lambat, tinggalkan birokrasi," katanya.

Ia mencontohkan keberhasilan Filipina untk mengekspor mangga hingga ke AS dan Jepang.

"Mangga dari Filipina itu rasanya tidak terlalu manis, tapi justru itu yang dimaui pasar. Sementara mangga Indonesia rasanya terlalu manis," katanya.

Produsen, katanya, harus tahu selera pasar, dan jangan memaksakan selera sendiri.

"Ini semua kembali ke riset. Ciptakan produk pertanian yang sesuai selera pasar, seragam dan produksi bisa kontinyu sampai delapan bulan," katanya.

Untuk menghubungkan antara riset dan pengguna, ia menyarankan IPB untuk mengumpulkan eksporter, pemasok, hingga pedagang kecil guna mencari tahu kebutuhan pasar baik internasional maupun domestik.

Sri Haryati


Editor : Teguh Handoko

COPYRIGHT © ANTARA 2026