Humas HTI Jabar, Luthfi Afandi, mengatakan aksi unjuk rasa tersebut merupakan bentuk protes terhadap aksi militer Israel terhadap pembantaian relawan kemanusiaan di atas kapal M/S Mavi Marmara.
"Kami mengutuk keras tindakan biadab Israel yang menyerang relawan kemanusian dan kami juga menolak kedatangan Presiden Barack Obama ke Indonesia, yang dianggap sebagai pelindung Israel," tegas Luthfi di sela-sela aksi unjuk rasa.
Pihaknya menilai tindakan tersebut sangat tidak manusiawi, kejam dan di luar batas toleransi, sehingga Israel harus mendapat balasan yang setimpal.
"Pemerintah Indonesia seharusnya bersikap lebih tegas, karena bukan hanya aktivis Turki saja yang berada di kapal itu, tetapi juga aktivis dari berbagai negara, termasuk Indonesia," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya menuntut Pemerintah Indonesia mengirimkan tentara ke Palestina, bukan sebagai pasukan perdamaian tapi untuk bertempur melawan Israel.
Dalam aksinya, massa membawa berbagai poster yang isinya mengutuk kekejaman Israel dan mengecam Amerika Serikat.
Sebelum aksi unjuk rasa dari HTI Jabar, di tempat yang sama juga dilakukan aksi oleh ratusan mahasiswa dari Solidaritas Kemanusiaan untuk Palestina.
Mereka merupakan gabungan mahasiswa, antara lain dari KAMMI Bandung, BEM Kema Unpad, BEM IT Telkom, BEM STT Tekstil, dan BEM Politeknik Telkom.
Sementara itu, menyikapi aksi anti-Amerika Serikat dan Israel, Kapolwiltabes Bandung Kombes Pol Imam Budi Sumpeno, mengatakan tidak ada pengamanan khusus terhadap warga negara asing di Kota Bandung.
Imam menegaskan, tidak ada aksi "sweeping" yang dilakukan kelompok anti-Amerika dan Israel terhadap warga asing.
"Kami berharap aksi unjuk rasa ini berjalan dengan damai, dan Kota Bandung terjaga keamanannya," kata Imam yang ditemui saat mengamankan aksi unjuk rasa di Gedung Sate Bandung.
Ajat S
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.