Bandung, 28/3 (ANTARA) – Ketua Asosiasi Petani Anggrek Indonesia (APAI) Cabang Bandung Arif Joko mengatakan, anggrek spesies asli Jawa Barat Phalaenopsis javanicus telah hilang dari pasar, sehingga pada Pekan Anggrek dan Tanaman Hias di "Kota Kembang", jenis itu tidak ditemukan.
"Tidak ada satu pun petani yang memamerkan dan menjual spesies itu," kata Arif Joko saat ditemui di pameran di sebuah mal di Bandung, Minggu.
Menurut dia, Phalaenopsis javanica sudah sulit ditemui di habitat aslinya di hutan Garut, Cianjur selatan, dan Sukabumi selatan, karena sebagian besar hutan di Jawa Barat sudah rusak.
Dia mengatakan, pada 1970-an Phalaenopsis javanicus masih dikenal luas dan mudah di temui di kalangan penggemar anggrek Indonesia.
“Terakhir saya melihat Phalaenopsis javanica tahun 2005 di kebun salah seorang kolektor anggrek di Lembang,” kata Arif.
Menurut dia, para kolektor anggrek spesies pun menjadi salah satu faktor penghambat pelestarian Phalaenopsis javanica.
“Sebenarnya beberapa kolektor punya anggrek spesies itu. Tapi mereka berpikiran kalau punya spesies langka itu prestise. Makanya tidak ada yang mau menjual dan memperbanyaknya,” lanjut Arif.
Ia mengatakan, Phalaenopsis javanica justru banyak ditemui di Malaysia dan Taiwan. Sudah sejak lama penggemar anggrek di negara tersebut membawa spesies itu ke negaranya. Mereka pun tidak menganggap Phalaenopsis javanica sebagai spesies langka.
“Di sana satu pohon dijual seharga Rp 150.000. Di Indonesia saya ditawari bibitnya saja oleh seorang kolektor seharga Rp 600.000,” kata Arif.
Menurut dia, di kalangan penggemar anggrek spesies Indonesia berlaku stigma anggrek hutan lebih bagus daripada anggrek spesies yang dikembangbiakkan melalui proses pembotolan.
Padahal, kata Arif, proses pembotolan bisa mempermudah dan mempercepat perkembangbiakan anggrek spesies ketimbang harus mencarinya di hutan.
Namun teknologi proses pembotolan di Indonesia masih tertinggal dari negara lain di Asia, kata dia, karena Indonesia masih menggunakan teknik selfing (perkawinan sendiri), sedangkan di negara lain seperti Malaysia dan Taiwan sudah menggunakan teknik kloning.
Dengan teknik kloning, menurut dia, kualitas bibit anggrek yang dihasilkan menjadi lebih bagus.
Arif berharap pemerintah bisa mendukung petani anggrek, khususnya meningkatkan teknologi kloning dan membuat regulasi yang memudahkan pemasaran anggrek ke luar negeri.
“Pemerintah harus membantu agar anggrek hutan tidak punah. Sekarang kan banyak terjadi pembalakan hutan, habitat asli anggrek,” kata Arif.

jk/shp


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026