Bandung, 22/3 (ANTARA) - Sebanyak 42 siswa SMA peserta Ujian Nasional (UN) tahun ajaran 2009/2010 terpaksa terlambat datang dan masuk ke ruang kelas ujian di SMA Karya Pembangunan Baleendah Kabupaten Bandung Jawa Barat, karena tercegat banjir, Senin pagi.

Para pelajar yang kesiangan tersebut berasal dari SMA As-Salam, SMA Karya Bhakti dan SMA 10 November yang digabungkan dengan peserta UN di SMA KP Baleendah.

Menurut keterangan Panitia Pelaksanaan UN di SMA KP Baleendah, ke-42 siswa yang kesiangan masuk ruang ujian itu karena rumah mereka terhadang banjir di jalur jalan raya Rancamanyar.

Akibatnya mereka harus menggunakan jalan memutar menggunakan Jalan Kulalet - Rancamanyar yang ternyata terjebak kemacetan parah akibat semua kendaraan yang terhadang banjir menggunakan jalur alternatif itu.

"Mereka berangkat dari rumahnya pukul 05.30 WIB, namun mereka terjebak kemacetan akibat ada pengalihan arus kendaraan ke jalur itu, namun semuanya tetap bisa ikut UN meski tidak ada tambahan waktu toleransi," kata Panpel UN SMA KP, Wiratanu.

Sementara itu pelaksanaan UN hari pertama dimulai pukul 08.00 WIB dengan mata ujian pelajaran ujian nasional Bahasa Indonesia. Sedangkan jadwal kedua mata pelajaran Biologi (IPA) dan Sosiologi (IPS).

Wira menyebutkan kebetulan SMA As-Salam terkena banjir karena berlokasi di kawasan rawan banjir. Namun ketiga SMA swasta itu kebetulan UN-nya menginduk ke SMA KP Baleendah.

Ia menyebutkan, berdasarkan kesepakatan, peserta UN yang kesiangan tetap bisa mengikuti UN namun tidak ada toleransi tambahan waktu.

"Hasil pertemuan dengan Disdik Kabupaten Bandung yang dihadiri Muspida Kabupaten Bandung disepakati tidak ada toleransi tambahan waktu bagi peserta UN yang terlambat," katanya.

Sementara itu kemacetan arus lalu lintas menjadi salah satu kerawanan bagi peserta UN khususnya mereka yang akses jalan menuju sekolahnya tergenang banjir.

Hampir semua jalan raya di Baleendah yang mengakses ke luar kota diwarnai kemacetan akibat beberapa jalan utama di sana tergenang banjir dengan ketinggian signifikan.

Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026