"Angkutan batu bara saat ini penyebab utama jalur Cadas Pangeran menjadi sangat rawan longsor. Pemerintah akan mengalihkan pengangkutan batu bara dengan gerbong KA dari Cirebon ke Bandung," kata Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dicky Saromy di Bandung, Kamis.
Ia menyebutkan, saat ini tidak ada alternatif lain untuk pengangkutan batu bara dari Cirebon ke Bandung selain menggunakan truk dengan melintasi kawasan tanjakan Cadas Pangeran Sumedang.
Sedangkan jalur Cadas Pangeran sendiri kian terancam longsor ke dasar jurang sehingga berpotensi memutuskan jalur Bandung - Sumedang - Cirebon itu terutama pada musim penghujan.
Kemiringan jalan di sana sudah mengkhawatirkan, sehingga perlu ada alternatif penyelamatan jalur itu. Salah satunya mengurangi beban kendaraan yang melintas di jalur tengah Jawa Barat itu.
Dicky menyebutkan, saat ini Pemprov Jabar bersama PT Kereta Api Indonesia tengah berupaya untuk mempercepat proses 'short cut' dari Stasiun Cibungur ke Stasiun Tanjung Rasa Purwakarta sepanjang tujuh kilometer.
Rencananya proses "short cut" itu akan dimulai pengerjaanya pada 2011 mendatang, sehingga ditargetkan pada 2012 jalur itu sudah bisa dilintasi KA Batu Bara dari Cirebon ke Bandung dan beberapa daerah industri lainnya seperti Purwakarta.
"Saat ini pasokan batu bara untuk industri di Jabar semuanya melalui Pelabuhan Cirebon, angkutan KA batu bara akan menjadi alternatifnya. Kami akan bersinergi dengan semua pihak termasuk memadukan pengangkutannya hingga ke industri," kata Dicky.
Ia menyebutkan, angkutan batu bara yang melintas di jalur Bandung - Sumedang - Cirebon, selain mengancam jalur Cadas Pangeran juga mempercepat kerusakan jalan raya di kawasan itu akibat muatan yang berat.
"Penyelamatan jalur Cadas Pangeran akan menjadi agenda perhubungan di Jabar, tentunya bersinergi dengan Dinas Pekerjaan Umum," kata Dicky yang mantan Kepala Bidang Tata Ruang Wilayah Bappeda Jabar itu menambahkan.
Syarif Abdullah
(U.S033/B/Y003/Y003) 14-01-2010 19:10:03
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.