Garut sebagai dari "trafficking" (penjualan orang) untuk dijadikan PSK merupakan fenomena yang harus dicari tahu akar permasalahan dan penyebabnya, katanya di Garut, Selasa.
"Saya sangat penyesalkan atas penilaian terhadap Garut yang disebut-sebut masuk lima daerah di Indonesia yang melakukan 'trafficking' sebagai PSK," katanya saat ditemUI ANTAR disela-sela peringatan Hari Ibu di lapangan Otista Garut.
Menurut guru besar sosiologi Uniga itu, peristiwa memalukan tersebut tak akan terjadi jika selama ini semua pihak terutama institusi teknis Pemkab Garut, memberikan keterampilan, monitoring dan menyosialisasikan keimigrasian kepada perempuan pencari kerja, agar tak hanya tergiur upah dolar bekerja di luar negeri.
Namun pola penanganan selama ini, umumnya berpola "tabrak lari" yakni pemerintah pusat dan daerah baru menyibukan diri bila ada kasus trafficking yang mencuat, penganiayaan tenaga kerja perempuan serta imigran bermasalah ke permukaan.
Padahal upaya pencegahan jauh lebih baik dibandingkan penanganan saat terjadi nya kasus, yang bisa menurunkan harkat dan martabat perempuan ini, kata Ieke Sartika Iriani.
Selain itu hendaknya segenap kaum perempuan termasuk kalangan ibu-ibu, bisa berupaya menteladani jiwa patriotisme para tokoh perempuan terdahulu, diantaranya Rd. Dewi Sartika, R.A Kartini, Tjut Nya Dien serta para pemuka perempuan lain nya, untuk mengisi pembangunan.
Kendati kini, gender maupun kesetaraan perempuan banyak mengalami kemajuan termasuk telah dideklarasikan nya pembentukan "Forum Ikatan Janda Garut" (FIJAG) sekurang nya berangotakan 500, sebagai upaya perlindungan hukum terhadap kaum perempuan berstatus janda.
Sekaligus sebagai wahana mengubah citra kaum janda, yang selama ini kerap dikonotasikan negatif di tengah masyarakat, sehingga pendirian institusi ini merupakan sarana memperjuangkan dan mengangkat harkat martabat mereka.
Peringatan Hari Ibu tahun 2009 di Garut, antara lain ditandai pemberian penghargaan kepada sepuluh tokoh perempuan setempat, yang selama ini dinilai berjasa pada bidang pendidikan, seni, birokrat serta dunia usaha.
Terdiri Hj. Itjeu Fatimah Momon, SH, M.Si, Hj. Ai Sa'adah Ruchiat, Hj. Dedeh Aenil Fatah, Hj. Wida Safa'at, Diana Nastini, S.Sen, Mae, Spd, Mpd, Nunung Herlina, Euis Maryati, Wida Ningsih serta Dra Hj. Lilis Ato Hermanto.
Ditemui terpisah petugas pengibar bendera merah putih pada perhelatan tersebut, Dea Rahadian Hidayati mengemukakan harapan nya, agar pemberian penghargaan terhadap kaum ibu selama ini di daerah nya tak hanya disampaikan kepada kalangan "elite".
Sementara itu Bupati Aceng H.M Fikri membacakan sambutan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari, S.IP.***3***
John Doddy Hidayat
(U.PK-HT/B/M019/M019) 22-12-2009 16:04:42
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.