Politisi yang juga artis Muhammad Farhan memiliki solusi atau pendapat untuk mengatasi banjir yang kerap terjadi saat musim penghujan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Farhan, di Bandung, Jumat, mengatakan, dengan konservasi tanah resapan akan bisa mengatasi masalah banjir di Kabupaten Bandung.

Farhan akan meminta perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperhatikan konservasi tanah resapan air di KBU (kawasan Bandung Utara). 

Menurut caleg NasDem DPR RI Dapil Jawa Barat I ini  di KBU menjadi biang kerok awal mula banjir menerjang Bandung dan itu bisa dilakukan jika ia dipercaya menjadi anggota dewan.

"Saya lihat apakah saya ditempatkan di komisi yang tepat atau tidak, yakni kalau tidak Komisi IV, ya Komisi V," kata dia. 

"Kalau saya ditempatkan di Komisi IV, maka saya akan meminta perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperhatikan konservasi tanah resapan air di KBU (kawasan Bandung Utara), karena eta biang kerok na ya," kata Farhan.

Tetapi, lanjutnya, kalau ada di Komisi V, maka dia harus memperhatikan masalah rencana pembangunan infrastruktur pengendalian banjir di Bandung Raya. Karena hal itu merupakan tanggung jawab dari provinsi. 

"Kalau saya tidak ada di dua-duanya maka yang saya harus lakukan adalah bagaimana membangun jejaring penanggulangan bencana dan penanggulangan korban bencana bersama dengan kementerian sosial atau dinas sosial serta Tagana, itu saja," katanya.


Bandung lumbung seniman

Selain banjir, Bandung juga pernah disorot sebagai lumbung musisi dan seniman di era 90-an. Farhan juga mempunyai cara agar Bandung bisa kembali jaya.

"Kita harus menjadikan Bandung sebuah kota untuk mengekspor produk budaya Jawa Barat. Contohnya kita kan punya banyak sekali artis-artis top asal kota Bandung, Jawa Barat di level nasional. Nah, ini kita mesti dorong mereka ke level internasional," katanya.

"Bagaimana caranya? Ya kita mesti melihat mana seniman-seniman dengan karya seninya yang laku di festival-festival internasional. Nah itu yang mesti didorong, mesti difasilitasi," imbuhnya,

Kedua, Farhan akan belajar banyak dari seniman baik itu seni musik, seni rupa, seni tari, seni drama dan seni literasi dalam menjadikan Kota Bandung sebagai inkubator.

"Harus jadi inkubator Kota Bandung teh, caranya ada fasilitas apa saja di Kota Bandung untuk menjadi tempat inkubator para seniman dari berbagai macam jenis seni," katanya.

Sementara itu, Pakar Tata Ruang Kota Nirwono Joga melihat masalah banjir di kawasan Bandung Raya dapat diselesaikan jika ada koordinasi yang baik antara pemerintah kota/kabupaten, provinsi dan pemerintah pusat. 

Menurut dia, selama ini, lemahnya koordinasi dan saling melempar tanggungjawab membuat masalah banjir di Bandung tak pernah tuntas.

"Banjir bisa tuntas, karena siklus alam dari dulu selalu sama. Volume hujan sama saja. Tetapi harus ada pembagian tugas yang jelas untuk mulai menyelesaikannya," kata Nirwono Joga.

Dia menjelaskan, ada dua penyebab utama banjir di Bandung. Pertama banjir kiriman dari daerah dataran tinggi seperti Bandung bagian utara. Ini terjadi karena kawasan hutan lindung, dan kawasan hijau sudah sangat tereksplorasi. 

Seharusnya daerah-daerah hutan di dataran tinggi itu menjadi kawasan tangkapan air, sehingga volume air bisa dikurangi. Namun yang terjadi, pembangunan pemukiman dan viilla di daerah pegunungan ini justru semakin masif. 

"Karena sudah sangat tereksplorasi, akhirnya tidak lagi bisa menahan air, sehingga air mengalir dalam jumlah besar," paparnya. Apalagi, kata Nirwono, daerah Bandung seperti mangkuk yang dikelilingi pegunungan.

Untuk membenahi masalah rusaknya daerah tangkapan air ini, maka harus ada komitmen dari pembuat kebijakan untuk menghentikan ijin pembangunan villa atau properti  baru. 

"Harus ada keseriusan misalnya, menghentikan ijin pembangunan pemukiman baru dan mulai serius memperhatikan penghijauan," ujarnya. 

Penyebab kedua banjir di Bandung adalah buruknya drainase atau saluran air.

Nirwono menjelaskan, volume air dari daerah dataran tinggi sangat besar karena kurangnya daerah resapan. 

"Nah, di daerah kota yang lebih rendah, saluran air tidak berfungsi dengan baik. Misalnya, gorong-gorong atau selokannya sangat sempit. Hal ini menyebabkan air meluap ke pemukiman," kata dia. 

"Masalah banjir semakin parah karena daerah Bandung penduduknya semakin padat dari tahun ke tahun," lanjut dia.

Oleh karena itu, sebagai solusi, Nirwono menyarankan perbaikan drainase dan saluran air, misalnya dengan mulai memperlebar selokan atau gorong-gorong.

Selain itu karena Kota Bandung dan sekitarnya tidak memiliki daerah resapan air yang memadai, maka perlu dibangun danau, embung atau waduk buatan untuk menampung air. 

"Kalau di kota bandung sulit dicari lahannya, maka bisa dicari di daerah sekitarnya," ujar Nirwono.

Baca juga: Farhan sebut Jabar lumbung bibit pesepakbola

Baca juga: Partai NasDem usung strategi khusus lestarikan seni budaya Jabar


 

Pewarta: ASJ

Editor : Ajat Sudrajat


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2019