(Antaranews Jabar) - Ribuan kepala keluarga di Kecamatan Naringgul, Cianjur, Jawa Barat, berharap pemerintah melalui Pertamina membangun SPBU di wilayah tersebut karena selama ini warga kesulitan untuk mendapat BBM dengan harga resmi.

Terlebih saat ini, jalan nasional yang membentang di wilayah tersebut, mulai ramai dilalui kendaraan wisatawan dengan tujuan sejumlah pantai di wilayah selatan Cianjur dan Kabupaten Garut.

"Sejak Tanjakan Mala selesai dibangun, setiap harinya kendaraan yang melintas semakin padat. Namun ramainya kendaraan belum didukung dengan SPBU di kecamatan terujung Cianjur yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung itu," kata Jayudin tokoh masyarakat Naringgul pada wartawan Kamis. 

Selama ini, tutur dia warga yang membutuhkan BBM harus membayar lebih ketika membeli di Pertamini atau pengecer 2 tak yang harganya lebih tinggi dari harga resmi di SPBU.

Bahkan untuk pengecer selama ini, harus membeli ke SPBU yang jaraknya puluhan kilometer di Kecamatan Cidaun atau ke Ciwidey-Bandung, sehingga ketika menjual harga dua kali lipat dibandingkan harga resmi pemerintah.

"Jalan yang membentang merupakan jalan nasional yang sudah seharusnya di tunjang dengan SPBU resmi. Terlebih lagi ini merupakan kebutuhan semua orang yang memiliki kendaraan terutama wisatawan," katanya.

Dia menilai dengan dibangunya SPBU di wilayah tersebut akan meningkatkan perekonomian warga yang tidak perlu jauh-jauh atau membayar mahal untuk mendapatkan BBM kendaraan atau alat pertanian.

Hal senada terucap H Cahma pemilik pertamini di Jalan Raya Naringgul-Bandung. Dia berharap ada SPBU di bangun di jalur tersebut, agar memudahkan warga dan penguna jalan untuk mendapatkan BBM berbagai jenis layaknya di wilayah lain.

"Selama ini saya menjual BBM jenis pertalite dengan harga jauh dari SPBU karena harus mengeluarkan biaya transpor yang cukup tinggi kalau membeli di SPBU di Cidaun atau Ciwidey," katanya.

Untuk pertalite tambah dia, dijual Rp10 ribu pertalite dan Solar dijual di angka Rp8.000 perliter karena rata-rata pengecer membeli di SPBU ditambah uang trasnpor.

Bahkan tidak jarang ketika membeli di Ciwidey harganya lebih mahal karena membeli dari pengecer bukan langsung dari SPBU karena lintas wilayah operator tidak melayani.

"Semoga harapan kami terkabul Naringgul dapat memiliki SPBU sendiri, agar warga, penguna kendaraan dan pengecer dapat BBM sesuai harga resmi dan tidak lagi menjual dengan harga tinggi," katanya.

Baca juga: Kejari cianjur tingkatkan status pemeriksaan direktur rsud pagelaran

Baca juga: Data WNA masuk DPT, KPU lakukan pelanggaran
 

Pewarta: Ahmad Fikri

Editor : Isyati Putri


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2019