Jakarta (Antaranews Jabar) - Pada era awal 2000-an publik pernah dibuat terpana dengan megahnya kostum festival yang diperkenalkan Dynand Fariz dalam Jember Fashion Carnaval (JFC).

Semua orang kagum dan ingin bertandang ke Jember demi menyaksikan fenomenalnya arak-arakan sejauh 3,6 di kota itu.

Kabar itu pun viral termasuk begitu banyak media yang mewartakan bahwa ada festival sesemarak di Rio de Jeneiro di Tanah Air.

Maka sejak itulah kostum festival ala JFC mewabah di berbagai tempat, festival serupa diduplikasi di hampir seluruh provinsi hingga hampir dua windu sampai saat ini.

Kemudian sampai di satu titik publik menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, ritual yang tak lagi memancing rasa penasaran dan ingin tahu.

Boleh jadi masyarakat telah jenuh dengan kostum-kostum yang pada awalnya mengundang "wow" efek itu.

Meski masih ingin menonton dan berharap ada sesuatu yang baru dari pertunjukan itu, namun perlahan tapi pasti festival serupa tertinggal sebagai ritual sebagaimana pendahulunya di Rio atau Pasadena dengan konsep yang berbeda.

Jika diadopsikan pada realitas kehidupan yang lain, boleh jadi fenomena serupa sedang terjadi pada ajang kumpul massa untuk sebuah tujuan tertentu.

Dengan mengesampingkan pro dan kontra yang masih saja muncul, ajang serupa Reuni 212 misalnya meski masih mengundang perhatian namun sementara publik boleh jadi mulai jenuh.

Begitu kerapnya acara serupa digelar membuat masyarakat yang tidak terlibat semakin merasa biasa dengan hal-hal yang terkait itu.

Tak ubahnya dengan media yang nature-nya adalah mencari sesuatu yang baru dari sebuah kejadian.

Jika tak ada sesuatu yang baru, media akan mencari cara untuk menemukan dan memberitakan hal-hal baru dari sebuah ritual.

Namun lebih sering publik yang telah jenuh dengan begitu mudah tak mengindahkannya lagi.

Pakar marketing Hermawan Kartajaya sendiri menampik festival ala Jember telah ditinggalkan, sebab kepioniran JFC tetaplah fenomenal.

Tetapi kembali lagi bahwa tetaplah diperlukan sebuah daya tarik baru jika suatu event tak ingin ditinggalkan penontonnya. 

Serupa boleh jadi untuk kasus yang lain.
 

Salah Media

Protes dari panitia maupun pelaksana Reuni 212 terkait sedikitnya media yang memberitakan ajang yang mereka gelar lebih merupakan bentuk kekecewaan.

Meskipun dari hasil penelusuran di berbagai media khususnya platform online, acara yang dimaksud diliput dan diwartakan sebagaimana fakta yang terjadi di lapangan.

Bahkan beberapa media papan atas menerjunkan tim khusus yang mencakup banyak wartawan disebar di berbagai titik untuk melakukan peliputan langsung.

Maka menjadi tidak beralasan ketika media kemudian dipersalahkan atas pemberitaan yang dianggap tidak ada padahal barangkali lantaran kejenuhan publik atas suatu kondisi tertentu.

Pakar dan praktisi pemasaran Dr. Dion Dewa Barata SE., MSM mengatakan kebosanan konsumen atas suatu produk, bisa barang, jasa, atau kondisi tertentu dapat disebabkan oleh adanya dorongan atau motivasi yang ada dalam diri konsumen untuk mendapatkan pengalaman baru yang lebih baik.

Menurut Dekan Fakultas Humaniora dan Bisnis Universitas Pembangunan Jaya itu, secara teoritis, kondisi bosan dipicu adanya paparan atau exposure stimulus yang terus-menerus diterima oleh individu dalam jangka waktu tertentu; dan pada titik tertentu persepsi ketertarikan yang tercipta sebagai dampak dari stimulus tersebut akan menurun.

Alumnus UI itu pun menyarankan cara untuk menghilangkan kebosanan atau kejenuhan pada suatu produk sebelumnya adalah dengan memberikan variasi stimulus baru agar individu merasakan sesuatu yang baru atau berbeda sehingga individu termotivasi untuk mempersepsikan, merasakan, dan bahkan mencoba produk baru tersebut.

Alih-alih menjadikan media sebagai kambing hitam, meningkatkan daya tarik terhadap sesuatu hal akan mendongkrak nilai berita yang cenderung menyedot perhatian publik.

Di satu sisi, menyudutkan media pada posisi yang dipersalahkan menjadi tidak bijak manakala di sisi yang lain media telah banyak berperan dalam membuka mata publik tentang acara yang digelar sebelumnya.

Media pun terjebak pada pameo jika bagus tak diapresiasi namun bila tak menunjukkan performansi yang bagus, dia adalah kambing hitam dari semua hal yang terjadi.
 

Keberpihakan Media

Pengamat politik Arif Amarudin menilai media telah memegang peranan yang amat besar dalam kehidupan berdemokrasi di negeri ini.

Menurut dia, media massa telah memainkan peran pentingnya dalam kehidupan sosial dan transisi demokrasi di banyak negara termasuk di Indonesia.

Bahkan lebih jauh media mendorong demokrasi berlangsung lebih baik dibarengi dengan berbagai aspek dan konsekuensi ikutannya.

Alumnus UIN itu menyebut wartawan saat ini memiliki kekuatan terstruktur atau terstruktur ulang secara nyata sehingga mampu menyajikan kehidupan dan kejadian yang berlangsung melalui perspektif yang serba unik.

Publik kemudian mendapatkan sajian yang mudah untuk dibaca atau ditonton disajikan dengan amat menarik dan jauh dari kata membosankan.

Namun satu yang kemudian dipertanyakan yakni perihal indenpensi media ketika sebagian besar perusahaan yang menaunginya telah dikuasai pemodal.

Tak jarang investor memiliki kepentingan politik yang kuat hingga berpengaruh langsung pada agenda setting dan pemberitaan media yang bersangkutan.

Namun sekali lagi Arif melihat seberapapun kuatnya kepentingan pemilik media, wartawan tetap memiliki karakteristik utamanya untuk selalu mencari novelty atau unsur kebaruan dari apapun kejadian.

Tapi seberapapun barunya sebuah informasi dengan segala daya tariknya, selera pasar adalah segalanya.

Jika publik tak memilihnya maka informasi dalam koran misalnya hanya akan berakhir di gerobak sayur sebagai bungkus tempe.


 

Pewarta: Hanni Sofia

Editor : Zaenal A.


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2018