Universitas Pasundan (Unpas) menyebut pekerjaan pengarsipan masih menjadi hal yang vital dan dibutuhkan di era digital dengan metamorfosis dari kertas ke paperless hingga kecerdasan buatan (artificial inteligence/AI).

"Pengarsipan yang dalam keilmuan istilahnya kearsipan itu penting. Karena dokumen bukanlah kertas yang diam dan sunyi, tapi dia hidup, dia berbunyi dan membawa pesan, kalau dibutuhkan kerja lanjutan dia bertumpu di sana," kata Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) Kunkunrat di Aula Suradireja di Bandung, Senin.

Dia menekankan, arsip memiliki nilai strategis sebagai rekam jejak institusi sekaligus fondasi dalam proses pengambilan kebijakan. Karena itu, tata kelola arsip yang baik menjadi kebutuhan utama di era pemerintahan modern berbasis digital.

"Arsip adalah yang paling jujur untuk berbagai kepentingan, terlebih bagi arsip rekam jejak pekerjaan yang tersusun dengan tertib. Sehingga saya optimis bahwa kemajuan apapun, rekam jejak pekerjaan atau arsip itu tetap ada," ujarnya.

Meski demikian, dia mengatakan, pengarsipan perlu adaptasi di tengah derasnya arus digitalisasi dan penggunaan AI ini, karena semakin dituntut tampil tertib, terintegrasi, dan akuntabel.

Karena itu, Kunkunrat mengatakan pihaknya menggelar Workshop Kearsipan bertajuk "Penguatan Tata Kelola Arsip Menuju Organisasi yang Tertib dan Akuntabel" mulai Senin ini sampai Rabu (20/5).

Kegiatan ini, menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa Program Studi Administrasi Publik agar tidak hanya memahami teori administrasi pemerintahan, tetapi juga memiliki kemampuan praktis di bidang pengelolaan arsip, tata kelola data, hingga digital governance.

Sekitar 98 mahasiswa angkatan 2024 mengikuti workshop yang difokuskan pada penguatan vokasi dan kesiapan menghadapi dunia kerja berbasis teknologi serta data.

Di lokasi yang sama, Ketua Program Studi Administrasi Publik FISIP Unpas Ine Marianne menjelaskan workshop tersebut merupakan bagian dari kurikulum berbasis kompetensi yang menitikberatkan pada praktik lapangan.

Ia menyebut, terdapat tiga fokus utama pembelajaran yang diperkuat, yakni kearsipan, system dynamics, dan digital governance.

"Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik langsung di laboratorium agar siap menghadapi dunia kerja," kata Ine.

Selain memahami tata kelola arsip, mahasiswa juga dibekali kemampuan analisis kebijakan, sistem informasi manajemen, hingga pemanfaatan big data dalam mendukung tata kelola pemerintahan modern.

Menambahkan, Koordinator Laboratorium Administrasi Publik FISIP Unpas Andre Ariesmansyah menilai tantangan terbesar digitalisasi di Indonesia saat ini bukan sekadar banyaknya aplikasi karena ada tantangan saat ini soal lemahnya integrasi data antarsistem.

"Yang dibutuhkan adalah integrasi data governance yang kuat, bukan sekadar banyaknya aplikasi," ujar Andre.

Ia menambahkan, penguatan sistem kearsipan digital juga harus dibarengi dengan peningkatan keamanan data atau cyber security di tengah masifnya penggunaan teknologi digital dan AI.

Menurut Andre, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan berbagai pihak menjadi kunci dalam membangun tata kelola data dan arsip yang aman, terintegrasi, serta mampu mendukung pelayanan publik berbasis data.

Melalui workshop ini, FISIP Unpas berharap mampu mencetak lulusan yang tidak hanya memahami administrasi publik secara teoritis, tetapi juga memiliki kompetensi praktis di bidang kearsipan dan tata kelola digital, serta siap menghadapi kebutuhan dunia kerja modern.

Pewarta: RPG

Editor : Ricky Prayoga


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2026