Bandung, (Antaranews Jabar) - Masih banyakkah orang yang memiliki persepsi yang sama ketika mendengar kata sumur sebagai sebuah lubang dengan ukuran yang hampir mirip yang dibuat dengan menggali tanah untuk mencari mata air dan menjadikannya sumber air bersih untuk segala keperluan?
   
Ada sebuah sumur yang dibuat Nurdian Ichsan, kurator, seniman, dan dosen seni ITB, di tengah sebuah ruang pameran di kawasan seni Selasar Sunaryo, Bandung. 

Replika sumur itu dibuat dari tanah lempung yang didatangkan dari Jatiwangi, daerah yang terkenal sebagai pusat genteng.

Sumur putih itu persis di tengah-tengah sebuah ruangan. Sendirian, terpisah dari benda seni yang dipajang di ruangan berbeda. Benda seni yang dibuat Sasan, panggilannya, menjadi satu-satunya yang boleh disentuh pengunjung. Benda seni yang lain yang dipamerkan selama sebulan, 26/1-25/2, itu terlarang disentuh. Ada pembatas yang jelas yang tidak boleh dilewati pengunjung untuk melindungi benda seni dari keramik dan lempung yang tidak boleh disentuh tersebut.

Sumur putih itu memberi sensasi adem khas tanah lempung, mirip lantai tanah di rumah-rumah zaman "old". Seperti sumur pada umumnya, sumur di tengah ruangan itu juga memanggil pengunjung untuk mendekat dan menengok ke dasarnya.

"Sumur Sasan tidak melahirkan makna baru atas kebiasaan kita mengenali bentuk sumur. Tapi kita melongok untuk tidak melihat apa-apa di dalamnya," demikian kata kurator pameran tersebut, Hendro Wiyanto dalam katalog pameran.

Menurut dia, mungkin si pelongok sumur, juga pada karya ini, tetap ingin melihat bayangan dirinya di dalam sumur.

Di ruangan terpisah, Sasan memajang patung diri berupa keramik putih tiga kelompok berbeda. Yang pertama adalah deretan 90-an patung diri setengah dada yang dipajang menempel di dinding. Karya itu merupakan tugas akhir Sasan ketika melanjutkan studi di Jepang. Ada juga empat topeng yang merupakan potret diri Sasan.

Seorang pengunjung menikmati patung setengah dada Sasan. (Sapto HP)

Karya patung diri lainnya berupa tumpukan ratusan replika kepala Sasan yang disusun menjadi bentuk kubus yang kosong di tengahnya. Ada kesan ngeri melihat instalasi itu ketika tumpukan patung kepala tersebut membawa ingatan ke foto-foto tengkorak korban kekejian Polpot.

Ratusan replika Sasan itu berbeda dengan dua kelompok potret diri lainnya. Ratusan replika yang ditumpuk itu merupakan potret diri yang tampilannya mirip dengan wajah Sasan. Sedangkan wajah pada patung setengah dada dan topeng yang digantung terpisah itu memiliki bentuk yang aneh karena bagian wajahnya dipasang terbalik.

Bagi Sasan, sesuai dengan tema pamerannya: "Sense of Order", pamerannya itu untuk menggambarkan adanya aspek order dan disorder dalam sebuah karya. Order dan disorder, bagi Sasan, "dibutuhkan" dalam mempersepsi atau memahami realita.

Baik seniman maupun audien, kata Sasan, membutuhkan aspek order dan disorder.

Aspek itu bagi seniman dibutuhkan untuk menemukan problem dan berusaha merepresentasikannya dan audien diandaikan sampai tingkat tertentu bisa menangkapkannya sesuai dengan kepekaan masing-masing.

Sejumlah pengunjung menikmati tumpukan ratusan replika kepala Sasan. (Sapto HP)

Pewarta: Sapto HP

Editor : Ajat Sudrajat


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2018